“Lalu,” ucap Viktor seraya duduk di pinggir meja, bersedekap tangang menatap lurus pada Daylon. “Lalu, ada apa? Tidak mungkin jika kamu datang ke sini hanya untuk melanjutkan kemesraan kita waktu itu,” kelakarnya. Daylon mendengus, jengah dengan sikap Viktor yang selalu terlihat menggodanya meski tidak terang-terangan. “Aku ke sini untuk kasih peringatan, jangan ganggu keponakanku. Biarkan dia ikut komunitas motor, tapi dia tak ada urusan lain denganmu selain itu!” tukas Daylon. “Urusan apa? Justru aku ingin mengajaknya berbisnis dan menghasilkan banyak uang, biar dia tidak tergantung sama uang warisannya yang belum kunjung cair itu,” ujar Viktor. Daylon mengepalkan tangannya, Viktor tentu tidak akan serta merta tahu soal internal macam itu kecuali dari Hugo sendiri. “Jangan ikut

