Beberapa hari kemudian … Kamelia menghela nafas dalam-dalam, berusaha untuk menenangkan emosinya. Saat ini dia sudah berada di depan rumahnya yang ada di kampung halaman, dia pergi kesana diantar oleh Max. “Sudah siap?” tanya Max, meliriknya dari kaca spion. Kamelia mengangkat kepala, melihat Max sebentar, lalu melempar pandangan ke luar. Di sana, ada sebuah rumah mewah dua lantai. Meski gaya bangunannya sudah ketingalan jaman, tapi masih terlihat megah dan rapi karena dirawat dengan baik. “Ayah,” gumam Kamelia dengan air mata mengambang. Ingatannya terlempar ke beberapa tahun lalu di kala ayahnya, Arman, masih hidup. Bertiga mereka merupakan keluarga kecil yang bahagia. Arman yang seorang pengusaha kebun teh, termasuk orang terpandang dan terkaya di sana. Semua orang menghormatiny

