Kamelia menangis dalam diam, dia sedih karena harus meninggalkan Fatya dengan situasi tidak mengenakkan, tapi di sisi lain dia lega karena akhirnya bisa bersama dengan Aksa lagi. Dia menoleh merasakan tangannya digenggam hangat oleh Aksa, lelaki itu tersenyum lembut selagi mengemudi dengan satu tangannya yang lain. “Aku nggak apa-apa, Mas, maaf!” ucap Kamelia seraya buru-buru menghapus air matanya, tak ingin Aksa mengira jika bersedih. Akas mencium tangannya sebentar. “Aku tahu, Sayang, wajar saja jika seorang anak perempuan menangis ketika harus meninggalkan rumah dan keluarganya, demi patuh pada suaminya dan aku menjadi suami yang beruntung di dunia karena memiliki istri sepertimu!” tuturnya memberi penghiburan. Kamelia pun tersenyum mendengarnhya. “Terima kasih!” ucapnya. Aksa menga

