Aksa menunggu hingga Kamelia siap untuk pergi, hanya saja perempuan itu menolak untuk satu mobil bersamanya. “Aku nggak mau nanti keliatan sama orang kantor, Mas!” ucapnya beralasan. Aksa menghela nafas dalam-dalam, dia mengangguk mengerti. “Baiklah, aku pesankan taksi kalau begitu!” katanya sambil mengeluarkan ponselnya. Kamelia mengangguk lega karenanya, dia tak mau membuat masalah di awal-awal masa kerjanya. “Entah bagaimana kalau sampai Mbak Mirna tau,” gumamnya seraya berpura-pura berdandan di depan cermin. Tapi kemudian fokusnya terdistraksi oleh pantulan penampilannya di cermin sana. Benar kata orang jika apa yang dipakai berpengaruh pada imej seseorang, dia yang hanya gadis kampung dengan baju lusuh dan sepatu murah, kini berubah drastis menjadi selayaknya seorang sekretaris

