185. Janji Nathan

1648 Words

Suasana sarapan di kediaman Ardha pagi itu terasa berbeda. Di meja makan yang luas itu hanya diisi oleh dua orang, Ardha dan Citra. Biasanya, pagi seperti ini akan diisi oleh suara Ardha yang bertanya tentang kantor, tentang Juned, tentang hal-hal kecil lainnya. Seorang ayah yang perhatian, selalu ingin tahu kabar anak-anaknya. Tapi pagi ini, Ardha hanya diam. Matanya tertuju pada piring, sendoknya bergerak pelan, mengaduk bubur tanpa benar-benar menyuap. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada obrolan ringan. Citra mengamatinya dari seberang meja. Dia meletakkan sendoknya, lalu memanggil pelan, "Pa." Ardha mengangkat kepala. Mata tuanya yang biasanya tajam, kini tampak sayu, menerawang ke suatu tempat yang tidak terlihat. "Apa yang Papa pikirkan?" Citra mencondongkan tubuh, nada suaranya penu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD