48. Bukan Rahasia Lagi

1135 Words

Pagi itu, udara terasa berat di meja makan. Bima menatap kopinya yang masih mengepul sebelum akhirnya memecah keheningan. Ada sesuatu yang sejak beberapa waktu lalu dia simpan sendiri. "Aku mau kasih tau sesuatu padamu, Ta," ucapnya, suaranya terdengar agak serak. Rita mengangkat pandangan dari piringnya. Matanya menyipit, waspada. "Apa ada hal penting?" tanyanya, satu tangannya di pangkuannya sudah mengepal tanpa sadar. "Pak Ardha ... kakeknya Calista ... dia menawarkan sebuah gedung baru untuk bengkelku." Rita terdiam sejenak, lalu tarikan napasnya terdengar pendek. "Mas akan menerimanya?" tanyanya cepat, nadanya datar namun tajam. Bima tidak langsung menjawab. Dia mengaduk kopinya pelan. "Itu artinya ... dia sudah tahu kalau cucunya membayarmu untuk jadi suaminya?" desis Rita, s

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD