"Silakan, Kak Indri," ucap Nilam lembut, meletakkan segelas jus jeruk yang masih berembun dan piring kecil berisi kue kering di atas meja kayu. Indri mengangguk kaku, tangannya melingkari gelas dingin itu. Setelah Nilam menjauh, keheningan yang terasa tebal mengisi ruang kecil yang terpisah oleh partisi ini. Calista duduk di seberangnya dengan postur yang santai namun rapi. Dia tidak memasang wajah dingin, bahkan senyumnya tetap ada di sudut bibirnya, tapi bagi Indri, setiap detik terasa seperti ujian. "Apa yang membawa kamu ke sini, Indri?" tanya Calista, memecah kesunyian. Suaranya jernih, tanpa dendam. Indri menelan ludah. "Eh, itu ....” Jarinya memutar-mutar pangkal gelas. "Saya mau minta maaf. Untuk kejadian di food court waktu itu. Maaf karena saya tidak tahu kalau ... kalau Abang

