69. Label Buruk

1332 Words

Bima sampai di rumah barunya menjelang sore, tubuhnya terasa berat seperti dibebani batu besar. Sepanjang siang dia membereskan bengkel untuk persiapan operasi besok. Begitu pintu terbuka, Sisi dan Juno langsung menyambutnya dengan riuh, suara kecil mereka memecah kesunyian rumah. Dua pasang tangan mungil dengan sigap menyodorkan segelas air dan sepiring kecil kue. Hatinya yang kusut terasa hangat sejenak. "Terima kasih, kesayangan ayah." Bima mengelus kepala Sisi, lalu Juno, usapannya perlahan. "Sama-sama, ayah!" sahut mereka serempak, wajahnya berseri. "Bunda mana?" "Bunda lagi ke warung," jawab Sisi sambil mata anak itu kembali tertarik ke layar televisi. Bima menghela napas, lalu merebahkan diri di sofa. Kakinya diregangkan, otot-ototnya berdenyut lelah. Tangannya menekan pelipisn

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD