Jari-jari Bima bergetar tak terkendali saat dia mengulur-ulur ponselnya, mencoba menekan nomor Ardha Tedjakusuma. Napasnya tersendat setiap kali dia hampir menyentuh layar. Di belakangnya, Juned diam mengamati, bibirnya terkunci rapat, tetapi sorot matanya yang tetap menempel pada Bima adalah satu-satunya dukungan yang bisa diberikannya saat ini. "Halo, Bima?" Suara Ardha di seberang terdengar tenang, seperti biasa. "Pak ...." Suara Bima tercekat, lidahnya terasa kaku untuk digerakan. Dia menelan ludah. "Ya, Bima, ada apa?" tanya Ardha, masih dengan penuh kesabaran. "Bu Citra ... beliau sudah datang ke bengkel. Beliau tahu ... semuanya." Bima memicingkan mata, berusaha merangkai kata yang tepat. "Dan—dan mengenai Calista. Pernikahan kami. Beliau meminta ... kami bercerai." "Citra? Apa

