Ruang keluarga sore itu terasa nyaman oleh putaran kipas angin yang berputar pelan. Juno duduk di sofa dengan selimut tipis menutupi kakinya, wajahnya masih sedikit pucat meski demamnya sudah mulai turun sejak pagi. Matanya tertuju pada layar televisi yang menayangkan film kartun, tapi sesekali dia melirik ke arah pintu, seperti berharap seseorang muncul. "Bunda, Kakak mana?" tanyanya tiba-tiba, memecah keheningan. Rita yang sedang melipat baju di kursi dekat jendela, menoleh. "Kakak kan lagi sama Ayah, Juno lupa ya?" Suaranya lembut, tapi ada getir yang dia sembunyikan. Juno memanyunkan bibir. Bibir bawahnya maju, matanya berkaca-kaca bukan karena demam, tapi karena rindu. "Mau telepon Ayah, Bun. Mau liat Kakak lagi ngapain." Rita tersenyum tipis. Dia meletakkan baju yang sedang dilip

