181. Gak Bisa Berhenti

1652 Words

Malam di kediaman Ardha terasa sunyi ketika Nathan melangkah masuk ke ruang keluarga. Lampu-lampu utama sudah dimatikan, hanya menyisakan cahaya temaram dari satu lampu baca di sudut. Dia menduga semua orang sudah beristirahat. Tapi di sofa panjang, di bawah cahaya redup itu, Ardha duduk di kursi rodanya. Danu duduk di samping, setia seperti biasa. Nathan berhenti sejenak, lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa seberang. Dia membaringkan kepala, memejamkan mata, lelah setelah seharian penuh, bukan hanya kerja, tapi juga karena seseorang. "Kamu bilang mau menyusul." Suara Ardha memecah keheningan, pelan tapi tegas. "Semua orang ada di sini tadi. Hanya kamu yang tidak ada, Nathan." Nathan tidak bergerak. Matanya masih terpejam. "Maaf, Pa. Sibuk sekali di lounge." "Sibuk?" Ardha mengulang kata

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD