"Masuk." Suara Citra yang tegas memotong kesunyian ruang kerjanya yang luas. Pintu ruangan itu terbuka dengan gerakan halus. Sekretarisnya melangkah masuk dengan langkah teratur, membawa sebuah map berkas. "Bu, laporan kuartal ketiga." Dia meletakkannya di atas meja kerja Citra yang sudah bersih dari benda tidak perlu. "Dan ... Pak Nathan menunggu di luar. Ingin bertemu dengan Anda." Citra baru saja mengangkat pena, jemarinya sedikit kaku di atas dokumen. Matanya yang tajam mengangkat, bertemu dengan pandangan sekretarisnya. Ada kerutan halus di antara alisnya yang biasanya mulus. "Suruh dia masuk." Beberapa saat kemudian, pintu terbuka lagi, dan kali ini tanpa ketukan. Nathan memasuki ruangan dengan langkah mantap. Udara di ruangan yang biasa dipenuhi aroma kopi elit dan kertas itu tib

