Pagi itu sebelum berangkat ke bengkel, Bima berlutut di depan Calista yang berdiri di depannya. Wajahnya dia dekatkan pada perut besar istrinya, bibirnya nyaris menyentuh kain dress yang membalut kulit Calista. "Baik-baik di sana, ya, Jagoan," bisiknya, seperti bicara pada teman kecil yang belum lahir. Dia mengecup perut itu sekali, lalu berdiri. Tangannya meraih dagu Calista, mencium dahinya lembut. Lama. "Aku berangkat, ya, Sayang." Suaranya hangat. "Sampai nanti." "Hati-hati, Sayang." Calista tersenyum, mengikuti langkah Bima menuju pintu. Bima baru saja membuka pintu unit apartemen ketika ponsel di sakunya bergetar. Dia mengeluarkannya, melirik layar. "Dari Indri," katanya pada Calista, masih di ambang pintu. "Mungkin soal bengkel." Dia menekan tombol hijau. "Kamu masuk aja, Sayang.

