159. Khawatir

2014 Words

Di sofa, Rita masih duduk dengan kepala tertunduk. Wajahnya pucat, matanya sembab. Di sampingnya, Juno dan Sisi duduk berdekatan, kedua anak itu menatap ibunya dengan bingung dan takut. Bima mendekat. Dia berlutut di depan kedua anaknya, merentangkan tangan. Juno dan Sisi langsung masuk ke dalam pelukannya. Bima memeluk mereka erat, merasakan tubuh kecil mereka yang bergetar. "Kalian jagain Bunda, ya," bisiknya di antara rambut mereka. "Jangan tinggalin Bunda. Harus hibur Bunda." Sisi mengangguk. Kepalanya yang kecil bergerak naik turun di d**a Bima. Juno hanya diam, tapi pelukannya mengerat. Bima melepas pelukan perlahan. Dia memandangi kedua anaknya bergantian, matanya penuh kasih sayang yang tak terhingga. Ibu jarinya mengusap pipi Sisi, lalu pipi Juno. "Ayah pergi dulu, ya. Nanti

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD