"Istrimu sangat cantik, Bima," puji Ibu Mayang sambil menurunkan secangkir kopi hitam ke meja kecil di samping mobil yang sedang dikerjakan. Matanya yang ramah berpindah ke Calista yang duduk tak jauh, terlihat asyik dengan ponselnya di bawah naungan pohon anggur hijau. Bima mengangkat kepala dari balik kap mesin, wajahnya belepotan sedikit oli. Pandangannya mengikuti arah Ibu Mayang, lalu tersenyum. "Ya, dia memang cantik," sahutnya, suaranya hangat dan penuh kepemilikan yang bangga. "Dan saya orang paling beruntung karena dicintainya." Ibu Mayang tersenyum lembut, lalu menurunkan suaranya sedikit. "Dia sedang hamil, ya?" "Empat bulan, Bu," jawab Bima sambil mengelap tangan dengan majun. "Wah, selamat, ya, kamu akan jadi ayah." "Sebenarnya, ini anak ketiga saya, Bu. Dua yang pertama

