98. Sayang ... Maaf

1332 Words

Bima menggigit bibir bawahnya, menahan gejolak di d**a. Kepalanya tertunduk sejenak, sebuah senyum getir yang samar muncul sebelum dia mengangkat wajah, menatap langsung Calista yang masih bergeming di tempatnya. "Cal—" "Aku merindukanmu," bisik Calista, kata-kata itu meluncur seperti pengakuan yang sudah terlalu lama ditahan. Bima tersenyum lagi, kali ini lebih hangat, meski matanya masih menyimpan bayang kesakitan. "Aku juga." "Sungguh?" Suara Calista terdengar kecil, ragu. "Ya. Sangat." 'Sampai sesak rasanya,' lanjutnya dalam hati. Dia melangkah perlahan, setiap langkahnya mempersempit jarak di antara mereka, seperti menghapus bulan-bulan yang memisahkan. "Tapi bukankah kamu yang memintaku pergi?" Suaranya rendah, terdengar serak. "Dan kamu benar-benar pergi," balas Calista, mat

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD