149. Rasa Bersalahnya

1202 Words

Di perjalanan pulang, Jakarta malam masih ramai. Lampu-lampu kota berpendar di kaca depan motor, tapi Bima tidak benar-benar melihatnya. Pikirannya penuh oleh suara Nathan yang masih bergema. "Tadi malam, Lily lihat lu nangis untuk pertama kalinya. Dan dia merasa sangat bersalah, Bim." Bima mengerjap. Jalanan di depan mulai kabur. "Dia gak berani deketin lu. Dia gak berani nyapa lu. Di situ dia mulai menyalahkan dirinya sendiri." Napas Bima memburu di balik helm. "Dia egois, katanya. Karena sudah bikin lu hancur." Bima mengangkat satu tangan dari setang, mengusap wajahnya dengan punggung tangan. Basah. Dia tidak tahu sejak kapan air matanya mulai tumpah. "Tidak, Cal." Bisiknya di dalam helm, suaranya pecah. "Itu bukan salahmu." ~.~ Di basement apartemen, Bima mematikan mesin motor

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD