148. Tolong Anggap Aku Istri

1734 Words

"Halo?" "Sore ini bisa servis mobil gue? Agak gak enak pas dipake jalan." "Sore? Kalau jam tujuh gimana, Pak? Soalnya sore ini masih harus ngelarin yang di sini," ujar Bima menjelaskan. "Gak masalah, yang penting lu ke sini aja, Bim. Gak usah bilang Lily, dia pasti larang lu datang ke sini." Bima tertawa. "Baik, Pak." Bima baru saja menutup panggilan telepon, ponselnya dimasukkan ke saku celana. Dia menoleh ke arah sofa tunggu, di mana Sisi duduk dengan seragam merah putih masih lengkap, tas ransel di sampingnya, dan sebungkus snack di tangan. Kakinya bergelantungan, matanya mengamati sekeliling dengan rasa ingin tahu. "Bang." Indri menghampiri, berdiri di samping kakaknya. Matanya juga tertuju pada Sisi. "Kenapa Sisi enggak diajak pulang? Kasihan, masa habis sekolah enggak istiraha

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD