Citra memasuki ruang kerja ayahnya, ketukan lembutnya di pintu hampir tak terdengar. Ardha sedang berdiri di dekat jendela, memandang keluar ke taman yang mulai disirami hujan sore. Dia menoleh perlahan saat Citra mendekat. "Ada urusan apa Papa dengan Bima?" tanya Citra, suaranya datar namun berisi tuntutan. Dia tahu kalau ayahnya baru saja pulang dari luar. Dia tidak duduk, memilih berdiri dengan tangan bersilang di depan d**a. "Aku dengar Papa memberinya mobil dan ... sebuah gedung. Benarkah?" Ardha tidak langsung menjawab. Dia mengambil gelas kristal berisi air dari meja kerjanya, meneguk seteguk kecil. "Hanya ingin memberi saja, Ra. Apa itu tidak boleh?" ucapnya tenang, namun matanya yang tajam memandang putrinya. "Papa tampaknya sudah mengenalnya lebih baik daripada aku sendiri," s

