"Mengapa memilih bercerai?" tanya Citra, yang pertama kali memecah keheningan yang membeku setelah kejutan awal. Tangannya yang terlipat di atas meja mengetuk-ngetuk taplak dengan ritme gugup. Rita tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang tak sampai ke matanya yang tetap dingin. "Saya merasa ... Jika rumah tangga saya sudah tidak lagi seperti dulu, Nyonya. Dasarnya sudah bergeser." Calista menunduk, memandangi pola sulur-sulur emas di pinggir piringnya. Namun, di balik ketenangannya, jantungnya berdebar kencang. "Lebih baik saya yang mengakhiri," lanjut Rita, suaranya jernih dan tenang, seperti air yang dalam, "daripada harus terus memendam rasa yang hanya akan jadi racun. Lebih baik saya mengalah, membiarkan Mas Bima mencari kebahagiaannya yang sepenuhnya bersama Calista." "Aku justru be

