Bima memejamkan matanya erat-erat, mencoba menahan gelombang emosi yang mendadak menghantam. Napasnya keluar berat, seperti desahan mesin yang kelelahan. Satu tangannya di atas meja perlahan mengepal, buku-buku jari yang mulai memutih menegaskan tekanan yang dia rasakan. "Aku sudah memikirkannya sepanjang malam, Mas." Rita melanjutkan, suaranya datar namun terasa seperti pisau tumpul yang menekan. "Kamu tidak akan rugi melepas—" "Apa sih, yang kamu bicarakan?!" hardik Bima, memotongnya. Suaranya meledak, lebih keras dari yang ia rencanakan, memecah keheningan rumah yang baru saja damai. "Mas, aku serius," tekan Rita, matanya kini menatap langsung ke arah Bima, tak lagi menghindar. "Kamu yang memulai semua ini, Ta!" bantah Bima, suaranya serak oleh emosi. "Kamu yang maksa aku masuk ke d

