139. Menerima Kenyataan

1739 Words

Udara di kafe itu terasa dingin oleh AC, tapi wajah Natasha merah padam oleh amarah. Jemarinya mencengkeram gelas es kopi hingga buku-buku jarinya memutih. "Sialan!" desisnya, suaranya keras tapi tertahan, seperti binatang yang terperangkap. "Dia benar-benar pecundang!" Rita yang duduk di seberangnya mengerutkan dahi. Sendok kecil di tangannya berhenti mengaduk. "Apa yang terjadi?" tanyanya hati-hati. "Aku dijebak!" Natasha meletakkan gelasnya dengan agak keras, membuat beberapa pengunjung lain menoleh. Dia tidak peduli. "Omnya Calista. Dia menggodaku, mengancamku dengan—" dia berhenti, napasnya memburu jika mengingat apa yang dialaminya. "Dia benar-benar sialan!" Rita menunduk. Jemarinya saling memilin. "Sebaiknya ... sudahi saja, Nat." Suaranya pelan, nyaris tak terdengar di antara s

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD