Ruangan itu mendadak terasa pengap, seolah udara berhenti mengalir seiring ucapan Bima yang terakhir. Calista menunduk, matanya terpaku pada keramik putih di bawah kakinya yang berubah warna menjadi kusam. Dia menghindari pandangan yang bisa bertemu dengan Bima, rahangnya mengeras menahan sesuatu yang tenggelam di dadanya, sebuah kekecewaan berat dan getir yang membuat lidahnya terasa pahit. Setelah beberapa detik hening yang tegang, Citra akhirnya bersuara, suaranya tenang namun berwibawa. "Baik. Saya rasa saya sudah menangkap akar masalahnya. Ini semua bermuara pada komunikasi yang rusak." Matanya yang tajam beralih ke Rita. "Rita, saya di sini tidak untuk membela Calista. Saya hanya melihat fakta. Kamu merasa kesepakatan ini memberatkanmu, padahal menurut saya, awalnya adil. Hak Calist

