Bima sudah menunggu di rumah sejak pagi. Udara di ruang tamu terasa pengap, sunyi oleh ketiadaan celoteh Sisi dan Juno. Dia sengaja memilih waktu ini, setelah istrinya mengantar anak-anak ke sekolah, untuk membicarakan segalanya tanpa risiko terdengar oleh telinga-telinga kecil yang polos. Dia tidak ingin lagi ada air mata ketakutan seperti malam sebelumnya. Namun, jam terus berjalan. Hingga sudah lebih dari satu jam dia duduk di sofa yang mulai terasa keras, menatap pintu, tetapi Rita tak kunjung muncul. Akhirnya, dengan napas berat, dia memutuskan untuk pergi. Tepat saat tangannya menyentuh gagang pintu, derum motor familiar terdengar di luar. Melalui jendela, dia melihat Rita mematikan mesin motornya. Wajah istrinya, yang biasanya masih segar di pagi hari, tampak kusut dan lesu, bagai

