Calista menarik napas pelan. Ingatannya perlahan kembali, menyusun potongan gambar, ibunya yang pergi dengan wajah dingin, kelemahan yang tiba-tiba menyerang, lalu gelap. "Kamu sudah bertemu Mama?" tanyanya, suaranya masih serak. "Ya," jawab Bima, duduk di tepi ranjang. Tangannya menemukan tangan Calista yang dingin. "Kami bertemu. Dan beliau mengizinkan aku datang untuk memastikan keadaanmu." "Aku baik-baik saja, kan?" Calista mencoba tersenyum kecil, jarinya meremas lembut lengan Bima seakan mencari kepastian. Bima membalas genggamannya, erat. "Kita harus ke rumah sakit, Cal. Dokter menyarankanmu untuk diopname." Suaranya terdengar seperti usapan halus, berusaha menenangkan. Tangannya yang lain tanpa sadar membelai helaian rambut Calista yang terpencar di atas bantal. "Kenapa? Dokter

