Pagi itu, setelah mengantar Dominic ke sekolah, Shania langsung kembali ke apartement. “Kamu yakin, kalau mau gak ngantor hari ini? Perusahaan kalian lagi menuju perubahan, takutnya kamu malah kena nanti, Shan?” Tanya Hanan sembari mengemudikan mobil menoleh ke arah Shania dengan santai. ”Kasian Dom, Mas. Kalau misalnya aku gak dampingin dia…” ”Kan ada aku, Shan. Tapi, kalau emang kamu mau berhenti berkarier. Aku bakalan dukung juga. Kamu butuh kegiatan apa aku bakalan support. Misalnya kamu butuh buka butiq? Salon, sanggar senam aerobic dan fitnes wanita? Aku bakalan support kamu. Kamu tinggal pilih lokasi aja maunya dimana?” Hanan dengan naga tenang membuat Shania terkadang terbuai dengan kebersamaan mereka. ”Untuk buka usaha di Jakarta ini, gak kecil modalnya, Mas. Butuh miliaran pas

