Abby mengangkat alis. "Ya?" "Dad yang bilang." Audrey menyendok es krimnya, berusaha terlihat biasa. "Itu cuma salah paham." Abby menatapnya sebentar, lalu tersenyum. "Kalau itu cuma salah paham ..." Ia mencondongkan tubuh sedikit. "Kenapa kamu tidak coba perbaiki semuanya? Terutama dengan Giselle." Suaranya lembut, tidak memaksa. "Aku lihat dia cukup menyesal. Dia seperti ingin kembali berteman dengan kamu lagi." Audrey diam. Sendoknya berputar di dalam mangkuk, mengaduk es krim yang sudah mulai meleleh. Suri yang sejak tadi asyik dengan makanannya, hanya melirik ke arah kakaknya, lalu kembali ke mangkuknya. "Akan kupikirkan," ucap Audrey akhirnya. Tidak tegas, tapi juga tidak menolak. Abby tersenyum senang. Ia tidak perlu jawaban sekarang. Yang penting pintu tidak tertutup. Audrey

