Mia baru saja sampai di rumah. Sepatu haknya dilepas di bawah sofa, tas diletakkan di sofa, lalu ia duduk dengan tubuh lelah. Sandra sudah menunggu sejak tadi, berdiri di dekat jendela, jari-jarinya gelisah memilin ujung kain. Sejak pertengkarannya dengan Audrey, hubungan mereka retak. Sandra tidak bisa tidur nyenyak, pikirannya terus berputar, mencari cara untuk memperbaiki, atau setidaknya, untuk tidak kehilangan sepenuhnya. "Bagaimana, Ma?" Sandra menghampiri, duduk di samping ibunya. Matanya penuh harap. "Apa Audrey mau dengar penjelasan Mama?" Mia menghela napas panjang. Tangannya yang keriput menggenggam tangan Sandra, menepuknya pelan. "Dia sudah tidak mau dengar, Sandra." Sandra menegang. "Apa Abby yang—" Mia mengangguk pelan. Matanya menatap putrinya lekat. "Sepertinya Abby s

