Irwan mengangguk. Tangannya yang berada di atas meja, mengepal. "Aku titip paper bag ke petugas." Yulinar menunjuk ke arah loker penitipan. "Aku buatin makanan kesukaan kamu, Wan. Diambil ya." "Terima kasih, Kak." Yulinar tersenyum menatap adiknya. Keluarganya satu-satunya yang tersisa. Dan mereka akan saling menjaga mulai saat ini. ~.~ Di lapas khusus wanita, suasana tidak jauh berbeda. Ruang kunjungan lebih kecil, lebih ramai. Sandra duduk di kursi besi, tangan di atas meja. Di depannya, Mia dan Donny duduk berdampingan. "Kami akan bayar dendanya." Suara Donny tegas. "Sehingga kamu bisa bebas lebih cepat, Kak." Sandra mengangguk pelan. "Tapi setelah bebas, tolong jangan lakukan hal konyol lagi." Donny menatap kakaknya lekat. "Karena aku tidak akan mau turun tangan." Sandra mende

