Penandaan

1389 Words
​Suara napas yang memburu menjadi satu-satunya simfoni yang mengisi ruang kerja yang kedap suara itu. Lewis menarik kepalanya perlahan, memutuskan tautan bibir mereka yang baru saja meledakkan seluruh batas kewajaran antara seorang dosen dan mahasiswinya. Namun, ia tidak menjauh. Ia tetap berada di sana, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Kairi, membiarkan uap panas dari napas mereka beradu dalam ruang yang sempit. Mata obsidian Lewis yang biasanya tajam dan terukur, kini tampak gelap, dipenuhi oleh kepuasan predator yang baru saja mencicipi buruan yang paling berharga. ​Kairi terengah-engah, dadanya naik turun dengan tidak beraturan di balik kemeja putihnya yang kini tampak sedikit berantakan. Ia merasa seolah seluruh oksigen di paru-parunya telah dihisap habis oleh pria di depannya. Kepalanya yang sejak tadi berdenyut karena demam kini terasa semakin ringan, membuatnya seolah-olah sedang melayang di tengah badai yang tak berujung. Ia menatap Lewis dengan pandangan yang kabur, matanya berkaca-kaca oleh air mata yang tidak sanggup ia bendung. Bibirnya yang mungil kini tampak bengkak dan kemerahan, jejak nyata dari keganasan ciuman yang baru saja ia terima. Rasa asin dari air matanya sendiri bercampur dengan sisa aroma kopi pahit dan mint dari bibir Lewis, menciptakan sensasi yang membingungkan indranya yang sedang kacau. ​Lewis menunduk, matanya menelusuri setiap inci wajah Kairi dengan tatapan yang sangat posesif. Ia mengulurkan tangannya yang besar, ibu jarinya mengusap sudut bibir Kairi yang basah, sebuah gerakan yang sangat intim namun mengandung otoritas yang menakutkan. Ia melihat bagaimana Kairi gemetar di bawah sentuhannya, bagaimana gadis itu tampak begitu hancur sekaligus begitu cantik dalam kerentanannya. Kepolosan Kairi yang tadi ia rasakan—kenyataan bahwa gadis ini tidak tahu bagaimana cara merespons sentuhannya—menjadi sebuah kemenangan pribadi bagi ego seorang Takizaki. Ia menyadari bahwa dialah yang pertama kali membuka gerbang emosi ini, dan ia tidak berniat membiarkan orang lain melakukan hal yang sama. ​"Lihat aku, Kairi," suara Lewis terdengar sangat rendah, parau, dan bergetar karena emosi yang masih meluap-luap. ​Kairi mencoba untuk berpaling, mencoba untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah dan bengkak, namun Lewis segera mencengkeram dagunya kembali dengan tekanan yang lebih tegas namun tidak menyakiti. Ia memaksanya untuk menatap lurus ke dalam matanya yang gelap, mencari pengakuan di sana. Di dalam ruangan yang terkunci itu, di atas meja kerja yang penuh dengan tumpukan draf skripsi dan buku-buku referensi yang kini terasa seperti barang-barang tak berarti, Lewis sedang menetapkan sebuah hukum baru yang melampaui kurikulum universitas mana pun. ​Lewis mendekatkan wajahnya ke telinga Kairi, membiarkan bibirnya nyaris menyentuh kulit leher gadis itu yang masih terasa panas terbakar demam. "Dengarkan aku baik-baik," bisiknya, suaranya kini terdengar seperti janji yang mengikat sekaligus sebuah kutukan yang manis. "Mulai detik ini, mulai saat ini juga di ruangan ini ... kamu bukan lagi sekadar mahasiswi yang datang untuk bimbingan. Kamu adalah milikku. Kamu tidak boleh dimiliki, disentuh, bahkan dipandang oleh siapa pun kecuali aku. Apakah kamu mengerti?" ​Kairi hanya bisa mengeluarkan suara isakan kecil yang tertahan di tenggorokannya. Ia ingin membantah, ingin mengatakan bahwa ia memiliki hak atas dirinya sendiri, namun kekuatan d******i Lewis seolah-olah telah melumpuhkan pita suaranya. Ia merasa seolah-olah Lewis baru saja memasangkan kerah tak kasat mata di lehernya, mengikat nasibnya secara permanen pada pria yang paling ia takuti ini. Dunia di luar sana—perpustakaan, teman-temannya, impian mandirinya—terasa jutaan mil jauhnya, seolah-olah terputus oleh lampu indikator merah di pintu yang masih menyala. ​"Jawab aku, Kairi," tekan Lewis, cengkeramannya di pinggang gadis itu menguat, menarik tubuh Kairi agar semakin melekat pada tubuhnya yang bidang. "Katakan bahwa kamu mengerti. Katakan bahwa kamu adalah milik Lewis Jaydenson Takizaki." ​"Saya ... saya mengerti, Pak ...," rintih Kairi akhirnya. Suaranya sangat pelan, nyaris hilang, namun di telinga Lewis, itu terdengar seperti sebuah nyanyian kemenangan yang paling indah. ​Namun, Lewis sepertinya belum puas dengan pengakuan itu. Ia menjauhkan wajahnya sedikit untuk menatap mata Kairi kembali. "Dan satu hal lagi, Kairi. Jangan pernah memanggilku 'Pak' saat kita hanya berdua seperti ini. Sebutan itu untuk mereka yang ada di luar sana. Bagimu, aku adalah Lewis. Panggil namaku." ​Mata Kairi membelalak. Jantungnya berdegup semakin liar. "Tapi ... itu tidak sopan, Pak ... Maksud saya, Anda adalah dosen saya ...." ​"Kairi," potong Lewis dengan nada peringatan yang dingin. "Panggil namaku." ​"Saya tidak bisa ... Pak Lewis," Kairi menggeleng lemah, mencoba mempertahankan sisa-sisa formalitas yang menjadi tameng terakhirnya. ​Mendengar bantahan itu, rahang Lewis mengeras. Tanpa peringatan, ia kembali merunduk dan membungkam bibir Kairi dengan ciuman yang lebih dalam, lebih menuntut, dan jauh lebih panas dari sebelumnya. Kali ini, Lewis tidak membiarkan Kairi hanya diam. Ia mendesakkan lidahnya, memaksa Kairi untuk merasakan kehadirannya yang memenuhi seluruh indra pengecapnya. Ciuman itu adalah hukuman sekaligus hadiah, sebuah cara Lewis untuk menunjukkan bahwa setiap bantahan hanya akan berujung pada penaklukan yang lebih intim. Kairi merintih di tengah ciuman itu, tangannya yang lemas mencengkeram kemeja Lewis, mencoba mencari pegangan di tengah badai yang melanda kesadarannya. ​Ketika Lewis melepaskannya kembali, napas Kairi sudah benar-benar putus-putus. Wajahnya merah padam, dan ia tampak hampir pingsan. ​"Sekali lagi, Kairi," bisik Lewis, bibirnya menyentuh ujung hidung Kairi. "Panggil namaku." ​Kairi menelan ludah, tenggorokannya yang sakit terasa bergetar. Ia menatap mata obsidian itu dan melihat betapa seriusnya pria ini. Ia menyadari tidak ada jalan keluar. "Le-Lewis ...," bisiknya dengan suara gemetar yang nyaris tidak terdengar. ​Lewis tersenyum tipis, sebuah senyuman yang kali ini membawa sedikit kehangatan yang langka di matanya yang tetap gelap. "Lagi. Katakan dengan jelas." ​"Lewis ...," ucap Kairi lebih jelas, meskipun rasa malu seolah membakar seluruh wajahnya. ​Mendengar namanya disebut oleh bibir bengkak itu, Lewis merasakan dorongan kemenangan yang tak tertandingi. Ia merasa puas karena telah menandai wilayah kekuasaannya, bukan hanya secara fisik, tapi juga dengan meruntuhkan batasan hierarki yang selama ini memisahkan mereka. Di atas meja kerja yang menjadi saksi bisu pengkhianatan profesionalitas ini, Lewis menyadari bahwa ia tidak akan pernah bisa melepaskan gadis ini lagi. Baginya, skripsi ini, universitas ini, dan segala aturan moral yang ada hanyalah latar belakang dari sebuah permainan yang kini ia menangkan sepenuhnya. ​Kairi merasa tenaganya benar-benar habis. Rasa sakit karena masuk angin yang tadi ia tahan sekuat tenaga kini meledak menjadi kelemahan yang absolut. Ia tidak lagi memiliki kekuatan untuk duduk tegak, apalagi untuk menolak kehadiran Lewis. Ia membiarkan kepalanya jatuh di bahu Lewis, menyandarkan seluruh beban tubuhnya pada pria yang baru saja merampas kemerdekaannya. Ia merasa lemas, lunglai dalam pelukan Lewis yang begitu protektif namun menyesakkan. ​Lewis melingkarkan kedua lengannya di sekeliling tubuh mungil Kairi, mendekapnya dengan sangat erat seolah-olah ia sedang memegang sebuah porselen mahal yang sangat rapuh. Ia bisa merasakan detak jantung Kairi yang masih berpacu kencang di balik dadanya, serta napas gadis itu yang mulai teratur namun tetap terasa panas. Di tengah keheningan ruang bimbingan yang terkunci, di bawah cahaya lampu temaram yang menciptakan bayangan panjang di dinding, Lewis terus mendekap Kairi, menghirup aroma rambut gadis itu yang bercampur dengan hawa demam. ​Anehnya, di tengah rasa takut dan ketidakberdayaannya, Kairi merasakan sebuah sensasi kenyamanan yang tidak seharusnya ada. Di dalam pelukan Lewis, untuk pertama kalinya sejak badai semalam, ia tidak lagi merasa kedinginan. Panas tubuh Lewis seolah menyerap seluruh rasa menggigil yang menyiksa tulang-tulangnya. Tanpa ia sadari, sebuah senyum tipis—sangat tipis dan hampir tak terlihat—muncul di sudut bibirnya yang bengkak. Ada rasa lega yang aneh saat menyadari bahwa ia tidak perlu lagi berjuang sendirian melawan dunia, meskipun pelindungnya adalah seorang pria yang mungkin paling berbahaya bagi jiwanya. ​Ia telah menandainya. Ia telah mengklaimnya. Dan di dalam hatinya yang dingin, Lewis bersumpah bahwa siapa pun yang mencoba mengambil Kairi darinya, siapa pun yang berani mengganggu "miliknya", akan berhadapan dengan murka yang tidak akan pernah mereka bayangkan sebelumnya. Babak baru dalam hidup Kairi Takemi telah dimulai, sebuah babak di mana ia bukan lagi protagonis atas hidupnya sendiri, melainkan sebuah bidak berharga dalam sangkar emas yang dibangun oleh obsesi seorang dosen. ​Kairi yang lemas dalam pelukan Lewis hanya bisa memejamkan mata, membiarkan dirinya ditelan oleh rasa aman yang palsu dan ketakutan yang nyata, sementara lampu merah di atas pintu masih menyala, menegaskan bahwa tidak ada jalan keluar bagi mereka berdua dari kegelapan yang baru saja mereka ciptakan. Ia tertidur sesaat dalam dekapan itu, terlalu lelah untuk memikirkan hari esok, sementara Lewis tetap terjaga, menatap pintu yang terkunci dengan tatapan tajam, siap menghancurkan siapa pun yang berani mengetuk dan mengganggu wilayah kedaulatannya yang baru.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD