Ciuman Pertama

1129 Words
​Udara di dalam ruangan itu kini terasa begitu berat, seolah-olah setiap molekul oksigen telah digantikan oleh muatan listrik yang siap meledak kapan saja. Kairi masih terengah-engah dalam kungkungan tangan Lewis, punggungnya menempel pada d**a bidang sang profesor yang terasa sekeras dinding batu. Rasa panas dari demamnya kini berbaur dengan panas yang dipancarkan oleh tubuh Lewis, menciptakan sensasi terbakar yang merambat dari pinggang hingga ke puncak kepalanya. Ia bisa merasakan setiap embusan napas Lewis yang memburu di ceruk lehernya, sebuah ritme yang tidak lagi menunjukkan ketenangan seorang akademisi, melainkan insting purba dari seorang pria yang telah lama menahan diri. ​Lewis tidak lagi memberikan ruang bagi logika. Kemarahan yang dipicu oleh kecemasannya sepanjang jalan, tuduhan-tuduhannya yang tajam, dan pemandangan Kairi yang hancur di hadapannya telah melebur menjadi satu dorongan posesif yang gelap. Ia melepaskan cengkeramannya di pinggiran meja, namun bukan untuk membebaskan Kairi. Dengan satu gerakan yang cepat dan penuh tenaga, Lewis memutar kursi kulit itu hingga Kairi menghadapnya sepenuhnya. Kursi itu berderit pelan, sebuah suara yang terdengar nyaring di tengah kesunyian ruangan yang terkunci, seolah-olah menjadi tanda dimulainya sebuah penyerahan diri yang absolut. ​Kairi tersentak, tangannya yang lemas secara insting terangkat untuk menahan d**a Lewis, namun telapak tangannya justru merasakan detak jantung pria itu yang berdegup kencang di balik kemeja hitam mahalnya. Ia menengadah, matanya yang basah dan berkaca-kaca menatap wajah Lewis yang kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya. Kacamata Lewis sedikit turun di pangkal hidungnya, memberikan pandangan yang lebih jelas pada matanya yang kini menghitam, dipenuhi oleh badai hasrat dan amarah yang belum pernah Kairi lihat sebelumnya. ​"Kamu ingin aku berhenti, Kairi?" bisik Lewis, suaranya kini terdengar sangat parau, hampir seperti geraman rendah. "Tapi matamu ... matamu mengatakan bahwa kamu sudah lama menunggu saat-saat di mana aku benar-benar menyentuhmu." ​"P-Pak ... tolong ...." Kairi mencoba bersuara, namun kata-katanya terputus oleh napasnya yang pendek. Ia merasa sangat lemah, sangat pusing, dan keberadaan Lewis yang menjulang di atasnya membuatnya merasa seperti sedang ditelan oleh bayangan besar. ​Lewis tidak mendengarkan permohonan itu. Baginya, setiap getaran di bibir Kairi adalah undangan yang tidak bisa ia tolak lagi. Ia mengulurkan tangannya, jari-jarinya yang panjang dan kuat mencengkeram dagu Kairi, memaksanya untuk tetap menengadah dengan posisi leher yang rentan. Ibu jari Lewis mengusap bibir bawah Kairi yang gemetar, merasakan tekstur kering dan panas akibat demam yang sedang melanda gadis itu. Sentuhan itu sangat posesif, seolah-olah ia sedang menandai sebuah barang berharga yang baru saja ia klaim sebagai miliknya. ​"Kamu tidak tahu betapa sulitnya aku menahan diri sejak semalam," desis Lewis tepat di depan bibir Kairi. "Melihatmu menggigil di mobilku, melihatmu masuk ke apartemen kumuh itu ... dan sekarang kamu datang ke sini untuk menyiksaku lebih jauh dengan kerapuhanmu." ​Tensi di antara mereka meledak tanpa peringatan lagi. Sebelum Kairi sempat memproses kata-kata itu, Lewis menundukkan kepalanya dan langsung melumat bibir Kairi dengan ganas. Itu bukan ciuman yang lembut atau penuh rayuan; itu adalah sebuah serangan. Lewis menciumnya dengan rasa lapar yang menuntut, sebuah ledakan emosi yang telah ia bendung rapat-rapat di balik topeng disiplinnya. Ia seolah ingin menghisap seluruh napas dan rasa sakit dari tubuh Kairi, memindahkannya ke dalam dirinya sendiri. ​Kairi membelalak kaget. Sensasi bibir Lewis yang dingin namun menuntut menyentuh bibirnya yang panas menciptakan sebuah ledakan sensorik yang membuatnya hampir kehilangan kesadaran. Ia mencoba mendorong bahu Lewis dengan sisa tenaganya, jemarinya mencengkeram kain kemeja pria itu dengan putus asa, namun tenaganya seolah menguap begitu saja. Lewis terlalu kuat, terlalu dominan, dan terlalu ahli dalam menguasai keadaan. Cengkeraman tangan Lewis di dagunya berpindah ke tengkuknya, jemarinya membenam di antara helaian rambut Kairi yang masih sedikit lembap, menarik kepala gadis itu agar ciuman mereka semakin dalam dan tidak menyisakan celah udara sedikit pun. ​Dominasi Lewis terasa mutlak. Ia terus menekan, lidahnya mulai menjelajahi rongga mulut Kairi dengan cara yang sangat invasif dan posesif. Kairi merasa dunianya benar-benar runtuh. Ia tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Rasa takut yang murni berbaur dengan sensasi asing yang membuatnya merasa lemas di sekujur tubuh. Ia merasa seperti sedang tenggelam di lautan yang sangat dalam, di mana Lewis adalah air yang mengepungnya, masuk ke dalam paru-parunya, dan mengambil alih kendali atas setiap sel di tubuhnya. ​Di tengah ciuman yang panas dan menuntut itu, Lewis tiba-tiba menyadari sesuatu yang membuatnya sesaat tertegun, namun justru semakin memicu sisi gelapnya. Kairi benar-benar tidak tahu cara merespons. Gadis itu hanya diam, tubuhnya kaku, dan bibirnya tidak membalas—ia hanya menerima dengan pasrah dan ketakutan yang nyata. Lewis menyadari betapa polosnya mahasiswi di depannya ini. Kairi tidak sedang bermain peran; dia benar-benar belum pernah disentuh oleh pria mana pun dengan cara sebrutal ini. Kepolosan itu terasa seperti bahan bakar baru bagi obsesi Lewis. Kenyataan bahwa dialah pria pertama yang merusak pertahanan Kairi, pria pertama yang merasakan rasa manis yang tersembunyi di balik ketegasan gadis itu, membuat Lewis kehilangan seluruh sisa kewarasannya. ​Lewis melepaskan satu tangannya dari meja dan melingkarkannya ke pinggang Kairi, menarik tubuh gadis itu agar bangkit sedikit dari kursi dan menempel erat pada tubuhnya. Ia bisa merasakan getaran hebat di tubuh Kairi, sebuah respons dari saraf yang terkejut dan sistem imun yang sedang melemah. Namun, Lewis tidak berhenti. Ia justru memperdalam lumatan bibirnya, mengubahnya dari serangan menjadi sebuah penandaan yang menyakitkan namun memabukkan. Ia ingin memastikan bahwa Kairi akan selalu mengingat rasa ini—rasa takut, rasa hormat, dan rasa gairah yang hanya bisa diberikan oleh seorang Lewis Jaydenson Takizaki. ​Kairi merasa oksigen di otaknya semakin menipis. Pandangannya benar-benar gelap sekarang, namun ia masih bisa merasakan intensitas bibir Lewis yang terus menuntutnya. Rasa sakit di kepalanya seolah memudar, digantikan oleh rasa sesak di dadanya yang kini dipenuhi oleh aroma Lewis. Ia tidak lagi mencoba mendorong; tangannya yang tadi mencengkeram kemeja Lewis kini terkulai lemas, jari-jarinya hanya menyentuh d**a pria itu tanpa tenaga, seolah-olah ia telah menyerahkan seluruh hidup dan matinya pada pria yang sedang menghancurkannya dengan ciuman ini. ​Di dalam ruangan yang terkunci rapat itu, di bawah cahaya temaram yang menjadi saksi bisu, Lewis terus mendominasi mangsanya. Ia tidak peduli lagi pada skripsi, tidak peduli pada etika dosen, dan tidak peduli pada dunia di luar sana yang mungkin akan menghancurkan reputasinya. Yang ia pedulikan hanyalah rasa Kairi Takemi di dalam pelukannya, rasa manis yang bercampur dengan hawa panas demam, dan kenyataan bahwa mulai detik ini, gadis ini telah ia tandai secara permanen sebagai miliknya—sebuah wilayah kekuasaan baru yang tidak akan pernah ia biarkan orang lain menyentuhnya. ​Ciuman itu terus berlanjut, semakin dalam dan semakin liar, meruntuhkan segala batas kesopanan yang selama ini menjaga mereka berdua. Lewis terus melumat, menuntut, dan menguasai, sementara Kairi hanya bisa terombang-ambing dalam badai gairah yang ia sendiri tidak pahami, merasa jiwanya perlahan-lahan ditarik keluar dari tubuhnya oleh pria yang paling ia takuti sekaligus ia dambakan di dalam kegelapan hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD