Interogasi Kedua

1142 Words
​Hening yang tercipta setelah pertanyaan tajam Lewis terasa begitu padat, seolah-olah udara di dalam ruangan itu telah membeku menjadi kristal-kristal es yang siap menyayat siapa pun yang berani bergerak. Kairi masih terduduk kaku, jemarinya terkunci erat pada tumpukan kertas skripsi yang kini mulai terasa sangat berat di pangkuannya. Ia bisa merasakan kehadiran Lewis yang berdiri sangat dekat di sampingnya, sebuah siluet gelap yang memancarkan panas tubuh dan otoritas yang tak terbantahkan. Aroma kayu cendana bercampur wangi kopi pahit dari tubuh pria itu kini menguasai seluruh indra penciumannya, membuatnya merasa semakin pening dan kehilangan pijakan pada realitas. ​Lewis tidak segera menunggu jawaban verbal dari bibir Kairi yang pucat. Ia justru melangkah satu tapak lagi, memutar posisinya hingga kini ia berdiri tepat di belakang kursi kulit yang diduduki Kairi. Pergerakan itu begitu halus, nyaris tanpa suara, namun bagi Kairi, itu terasa seperti gerakan seekor predator yang sedang mengunci mangsanya dari sudut mati. Kairi tidak berani menoleh. Ia hanya bisa menatap lurus ke depan, ke arah meja kerja kosong yang tadi ditempati Lewis, sementara seluruh syaraf di punggungnya berteriak waspada karena jarak antara mereka kini hanya tersisa beberapa inci saja. ​"Aku bertanya padamu, Kairi," suara Lewis terdengar sangat rendah, bergetar tepat di atas kepala Kairi. Suara itu bukan lagi suara seorang dosen yang sedang memberikan kuliah di auditorium besar, melainkan bisikan intim yang hanya diperuntukkan bagi telinganya. "Apakah kamu menuruti perintahku semalam? Apakah kamu sudah mandi dengan air hangat dan memastikan tubuhmu hangat sebelum kamu tidur?" ​Kairi menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya yang meradang terasa seperti disayat sembilu setiap kali ia mencoba melakukan gerakan sekecil apa pun. Pertanyaan itu terasa begitu absurd jika dibandingkan dengan tumpukan revisi bab tiga yang ada di pangkuannya. Di sinilah mereka, di dalam ruang bimbingan akademik yang paling prestisius di universitas ini, namun sang profesor sama sekali tidak menyinggung soal metodologi penelitian atau kerangka berpikir. ​"Sa-saya ... saya sudah melakukannya, Pak," bisik Kairi dengan suara yang nyaris hilang, serak dan penuh dengan getaran kelelahan. "Saya sudah mandi air hangat ... dan minum obat." ​Lewis mendengus, sebuah suara sinis yang membuat bulu kuduk Kairi meremang. Tiba-tiba, Kairi merasakan hembusan napas hangat Lewis menyentuh tengkuknya, sebuah sensasi yang sangat kontras dengan suhu ruangan yang dingin. Pria itu menundukkan sedikit tubuhnya, meletakkan kedua tangannya di atas sandaran kursi kulit tempat Kairi bersandar. Posisi itu secara efektif mengurung Kairi; ia terjebak di antara meja besar di depannya dan tubuh Lewis yang menjulang di belakangnya. ​"Jangan berbohong padaku," Lewis berbisik lagi, suaranya kini mengandung nada ancaman yang tersamar dengan rasa ingin tahu yang gelap. Ia memindahkan satu tangannya dari sandaran kursi, membiarkan jemarinya menyentuh permukaan meja kaca hitam di depan Kairi, tepat di samping tumpukan kertas skripsi gadis itu. "Jika kamu benar-benar melakukannya, kau tidak akan berdiri di depan pintuku dengan wajah semasai itu. Kamu tidak akan menggigil di bawah suhu AC-ku jika tubuhmu benar-benar kau rawat semalam. Kamu membiarkan dirimu kedinginan, bukan? Kamu membiarkan air hujan itu mengering di kulitmu sebelum kamu sempat menghangatkan diri." ​Kairi memejamkan matanya rapat-rapat. Rasa pening yang luar biasa kembali menghantamnya, membuat ruangan seolah-olah berputar. Ia merasa sangat sesak napas. Berada sedekat ini dengan Lewis, dalam kondisi pintu yang terkunci rapat dan lampu indikator merah yang menyala, membuatnya merasa seolah-olah oksigen di ruangan itu sengaja ditarik keluar. Setiap kali ia mencoba menarik napas, yang ia hirup hanyalah aroma maskulin dari Lewis yang semakin menyesakkan dadanya. ​Lewis kini menunduk lebih rendah lagi, hingga Kairi bisa merasakan gesekan halus kain kemeja hitam pria itu pada bahunya. "Lihat kertas-kertas ini, Kairi," ucap Lewis sambil mengetuk tumpukan skripsi Kairi dengan jari telunjuknya. "Kamu datang ke sini membawa tumpukan sampah ini hanya untuk membuktikan bahwa kamu mahasiswi yang rajin? Kamu pikir aku akan terkesan melihatmu memaksakan diri dalam kondisi menyedihkan seperti ini?" ​"Maafkan saya, Pak ...." Kairi terisak kecil, sebuah reaksi emosional yang tidak bisa ia tahan lagi karena tekanan fisik dan mental yang bertubi-tubi. "Saya ... saya hanya ingin bimbingan. Saya tidak ingin mengecewakan jadwal yang sudah Anda buat." ​"Bimbingan?" Lewis mengulangi kata itu dengan nada mengejek. "Kamu datang ke sini dengan kondisi demam tinggi, dengan kesadaran yang mungkin hanya tersisa setengah, dan kamu masih berani bicara soal bimbingan skripsi? Apa kamu pikir aku sebodoh itu, Kairi? Apa kau pikir aku tidak bisa melihat bahwa kedatanganmu ke sini lebih merupakan sebuah bentuk penyerahan diri daripada tugas akademik?" ​Lewis perlahan menggerakkan tangannya dari sandaran kursi ke arah belakang leher Kairi, jemarinya yang dingin menyentuh kulit leher gadis itu yang sedang terbakar demam. Sentuhan itu memberikan efek kejut yang luar biasa. Kairi tersentak, punggungnya menegang sempurna, namun ia tidak bisa bergerak ke mana-mana karena Lewis tetap berdiri kokoh di belakang kursinya, mengurungnya dalam ruang gerak yang sangat sempit. ​"Kamu sangat panas," gumam Lewis, suaranya kini terdengar lebih serak, seolah-olah ia sendiri sedang berjuang melawan insting yang mulai liar di dalam dadanya. "Tubuhmu sedang berontak, namun kamu tetap memaksanya untuk menemuiku. Kamu benar-benar mahasiswi yang sangat keras kepala, atau mungkin ... kamu hanya sedang mencoba memancing sesuatu dariku dengan wajah pucatmu ini." ​Interogasi ini terasa jauh lebih intim dan menyakitkan daripada pertanyaan tentang bab tiga skripsinya. Kairi merasa setiap kata yang diucapkan Lewis sedang menelanjangi motif-motif tersembunyi yang bahkan ia sendiri tidak berani akui di dalam hatinya. Lewis kini menumpukan kedua tangannya di atas meja, benar-benar mengepung Kairi dari segala arah, menciptakan sebuah sangkar manusia yang tak kasat mata namun sangat terasa tekanannya. ​"Katakan padaku, Kairi," Lewis membisikkan namanya dengan intonasi yang begitu dalam hingga membuat jantung Kairi seolah berhenti berdetak sesaat. "Apakah kamu sengaja membiarkan dirimu sakit? Apakah kamu sengaja tidak mandi air panas agar kamu punya alasan untuk terlihat rapuh di depanku hari ini?" ​Kairi menggelengkan kepalanya dengan lemah, air mata mulai menetes di pipinya yang panas. "Tidak ... bukan begitu ... saya benar-benar ingin lulus ...." ​"Kebohongan lagi," desis Lewis. Ia bisa melihat detak nadi di leher Kairi yang berpacu kencang, sebuah pengakuan jujur dari tubuh gadis itu yang mengkhianati kata-katanya. Di ruangan yang sunyi dan terkunci itu, Lewis tidak lagi peduli pada etika profesional. Ia hanya peduli pada fakta bahwa Kairi Takemi ada di sana, di bawah kendalinya, dan sedang hancur perlahan di tangannya. ​Kairi merasa penglihatannya mulai menggelap di pinggir-pinggirnya. Suara Lewis terdengar semakin jauh namun tetap terasa mengancam. Ia ingin bicara, ingin membela diri, namun yang keluar dari bibirnya hanyalah desahan kecil yang penuh penderitaan, yang ironisnya, justru membuat Lewis semakin menundukkan wajahnya, hingga napas mereka seolah-olah menyatu dalam satu frekuensi yang berbahaya di dalam ruangan yang terkunci itu. ​Lewis menatap pantulan wajah Kairi di permukaan meja kaca hitam yang gelap. Ia melihat seorang gadis yang telah kehilangan seluruh pertahanannya, yang kini hanya bisa pasrah pada apa pun yang akan dilakukan sang dosen padanya. Kesunyian itu kembali menyelimuti mereka, namun kali ini sarat dengan ketegangan yang menunggu waktu untuk meledak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD