Ruangan itu seolah-olah menyusut, dinding-dinding kayu jatinya bergerak mendekat, menghimpit sisa oksigen yang ada hingga Kairi merasa dadanya perih setiap kali ia mencoba menarik napas. Lewis masih berdiri kokoh di belakangnya, sepasang tangannya yang besar kini bertumpu kuat di atas meja kaca hitam, mengurung Kairi dalam sebuah sangkar tak kasat mata yang terbuat dari aroma maskulin dan otoritas yang menghancurkan. Di bawah sorot lampu meja yang temaram, bayangan tubuh Lewis jatuh menutupi tubuh mungil Kairi, sebuah metafora bisu tentang bagaimana pria ini telah menelan seluruh dunianya hanya dalam hitungan jam.
Kairi memejamkan mata, namun itu tidak membantu. Justru dalam kegelapan di balik kelopak matanya, ia merasakan kehadiran Lewis menjadi sepuluh kali lipat lebih intens. Ia bisa merasakan panas yang memancar dari kemeja hitam Lewis yang kini bersentuhan tipis dengan kain kemeja putihnya yang lembap. Getaran suara Lewis saat ia bernapas terasa seperti dengungan listrik yang merambat di sepanjang tulang belakang Kairi, memicu reaksi fisik yang tidak sanggup ia kendalikan. Tubuhnya yang sedang diserang demam bereaksi secara anomali; rasa dingin yang tadi menusuk kini berubah menjadi gelombang panas yang aneh setiap kali Lewis bergerak sedikit saja di belakangnya.
"Kamu tahu, Kairi," suara Lewis memecah keheningan dengan nada yang begitu dingin namun penuh dengan muatan emosional yang tertahan. "Aku sudah melihat ribuan mahasiswa selama bertahun-tahun aku mengajar. Aku tahu mana yang benar-benar ambisius, mana yang sekadar mengejar nilai, dan mana yang sedang melakukan pertunjukan murahan."
Lewis merunduk lebih rendah, hingga dagunya hampir bersentuhan dengan bahu Kairi. Tatapannya tertuju pada pantulan wajah Kairi di meja kaca hitam yang berfungsi layaknya cermin gelap. Di sana, ia melihat seorang gadis yang hancur, seorang gadis yang matanya berkaca-kaca dengan pipi yang memerah bukan karena gairah, melainkan karena peradangan yang sedang mengamuk di dalam darahnya. Namun, bagi Lewis, kerapuhan ini terasa seperti sebuah provokasi yang dirancang dengan sangat rapi untuk meruntuhkan kewarasannya.
"Lihat dirimu sekarang," lanjut Lewis, jemarinya yang panjang mulai mengetuk permukaan meja dengan ritme yang lambat dan menyiksa, tepat di sebelah jemari Kairi yang gemetar. "Kamu datang ke sini dengan tubuh yang bergetar, dengan napas yang berat, dan wajah yang seolah-olah akan pingsan jika aku menyentuhmu sedikit saja. Kamu memaksakan diri melewati lorong kampus, membiarkan semua orang melihat betapa menyedihkannya kondisimu, hanya untuk berakhir di ruanganku yang terkunci ini. Apakah kamu benar-benar berpikir aku akan percaya bahwa semua ini demi seonggok skripsi yang bahkan metodologinya masih berantakan?"
Kairi menggelengkan kepalanya dengan lemah. Rasa pening yang berdenyut di pelipisnya membuat setiap kata yang keluar terasa seperti beban ribuan ton. "Bukan ... bukan itu, Pak. Saya hanya tidak ingin ... tidak ingin membuang waktu Anda yang sangat berharga."
"Membuang waktuku?" Lewis tertawa rendah, sebuah suara parau yang terdengar seperti gesekan logam yang tajam dan berbahaya. "Kamu justru sedang menyita seluruh fokusku dengan drama kesehatanmu ini. Kamu sengaja, bukan? Kamu sengaja tidak mematuhi perintahku untuk mandi air hangat semalam. Kamu sengaja membiarkan suhu tubuhmu naik hingga titik ini karena kamu tahu ... kamu tahu betul bahwa aku tidak bisa mengabaikan sesuatu yang tampak rusak di depanku."
Tuduhan itu menghantam Kairi lebih keras daripada rasa sakit fisiknya. Ia tidak menyangka bahwa pria yang ia anggap sebagai penolongnya semalam akan memiliki pemikiran sekejam itu. "Saya tidak sengaja, Pak ... saya bersumpah. Saya hanya kelelahan. Saya tidak punya niat sedikit pun untuk bersandiwara."
"Kebohongan yang sangat manis, Kairi," bisik Lewis tepat di telinga gadis itu. Ujung hidungnya kini nyaris menyentuh kulit leher Kairi yang sensitif, menghirup aroma sabun murah yang bercampur dengan hawa panas demam. "Kamu ingin menarik perhatianku. Kamu ingin aku melihatmu bukan sebagai nomor induk mahasiswa, tapi sebagai seorang wanita yang butuh diselamatkan. Kamu ingin aku merasa bersalah karena telah meninggalkanmu di depan apartemen kumuh itu semalam. Dan kamu menggunakan rasa sakitmu ini sebagai alat untuk menjeratku agar aku tetap berada di dekatmu."
Kairi merasa dunianya seolah terbalik. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah, mengalir melewati pipinya yang panas dan jatuh ke atas draf skripsi yang kini tampak seperti tumpukan kertas tanpa arti. "Tidak ... itu tidak benar," Kairi membantah dengan suara yang sangat pelan, nyaris berupa bisikan yang tertelan oleh sesak di dadanya. Namun, karena kondisi tenggorokannya yang membengkak dan napasnya yang pendek, bantahan itu justru terdengar seperti desahan panjang yang penuh dengan kepasrahan di telinga Lewis.
Suara desahan itu seolah menjadi pemantik bagi sesuatu yang selama ini ditekan Lewis di balik topeng profesionalismenya. Ia merasakan rahangnya mengeras, dan cengkeramannya pada pinggiran meja semakin menguat. Baginya, suara Kairi terdengar seperti sebuah undangan, sebuah konfirmasi atas tuduhannya bahwa gadis ini memang sedang memancingnya ke dalam jurang.
"Suaramu mengkhianatimu, Kairi," ucap Lewis, suaranya kini berubah menjadi sangat parau dan gelap. "Kamu membantah dengan kata-katamu, tapi tubuhmu memohon hal yang berbeda. Kamu ingin aku menyentuhmu, bukan? Kamu ingin aku membuktikan bahwa taktikmu ini berhasil menarikku masuk ke dalam duniamu yang rapuh dan berantakan."
"Tolong ... hentikan, Pak ... saya benar-benar sakit ...." Kairi mencoba untuk berdiri, namun tangannya yang bertumpu pada meja tidak memiliki tenaga sedikit pun. Gerakannya justru membuatnya kehilangan keseimbangan karena rasa pening yang hebat.
Kairi hampir saja terjatuh jika Lewis tidak segera melingkarkan satu tangannya di pinggang gadis itu dari belakang, menarik tubuh mungil itu agar tetap berada di kursinya, namun dengan tekanan yang jauh lebih posesif. Sentuhan fisik yang tiba-tiba itu terasa seperti ledakan di dalam ruangan yang sunyi tersebut. Kairi tersentak, seluruh syarafnya seolah terbakar. Ia bisa merasakan telapak tangan Lewis yang lebar dan kuat menekan perutnya, sementara punggungnya kini sepenuhnya bersandar pada d**a bidang Lewis yang keras.
Dalam posisi ini, Kairi benar-benar tidak memiliki ruang untuk melarikan diri. Ia bisa merasakan detak jantung Lewis yang kuat di punggungnya, sebuah ritme yang menuntut dan tidak sabar. Lewis tidak melepaskannya; ia justru menenggelamkan wajahnya di celukan leher Kairi, menghirup napas dalam-dalam seolah ingin menandai wilayah kekuasaannya.
"Hentikan apa, Kairi? Hentikan kebenaran ini?" Lewis kini tidak lagi berpura-pura. Ia memutar sedikit kursi Kairi agar gadis itu setengah menghadap ke arahnya, namun ia tetap berdiri menjulang, memaksa Kairi untuk menengadah dengan posisi yang sangat rentan dan lemah. "Kamu ingin aku berhenti melihatmu sebagai mahasiswi yang licik, atau kamu ingin aku berhenti menyentuhmu seperti ini? Katakan, sebelum aku benar-benar kehilangan kendali atas apa yang ingin kulakukan padamu di ruangan ini."
Kairi menatap mata Lewis, dan ia melihat kegelapan yang penuh dengan hasrat posesif yang mengerikan. Ia melihat pantulan dirinya sendiri di mata obsidian itu—seorang gadis yang sedang digenggam oleh pria yang tidak berniat melepaskannya sampai ia benar-benar menyerah. Ia ingin berteriak, tapi suaranya tersangkut di tenggorokan, hanya menyisakan deru napas yang saling beradu di antara mereka.