“Nak Elang,” suara lirih Annisa. “Bapak dan Amira sudah tidak ada.” “Ibuk, Maafkan Elang.” Annisa memeluk tubuh anak menantunya yang baru saja duduk di sebelahnya. “Bukan salah Nak Elang. Semuanya sudah takdir dari Allah.” “Kalau Elang bisa datang lebih cepat Bapak pasti tidak akan nekat masuk ke dalam penjara untuk menyelamatkan Kak Amira. Beliau pasti masih ada bersama kita saat ini, Buk.” “Bukan salah Nak Elang. Jangan menyalahkan dirimu terus! Bapak pasti tidak akan suka saat mendengarnya.” Elang masuk ke dalam kamar jenazah untuk melihat jasad Bapak Mertuanya dan juga Kakak Iparnya. Hatinya sangat hancur ketika mendengar kabar keluarganya masuk daftar korban meninggal akibat kebakaran di rumah tahanan. Mertuanya nekat masuk ke dalam penjara untuk menyelamatkan putrinya yang masi

