PENGIKAT

2545 Words

“Here we go! Bismillah,” lirih Helia sembari menatap jam di atas window pass. Ia memejamkan mata sejenak, berdoa untuk timnya dan usahanya. Théologie memasukin waktu khasnya. Pukul empat sore. Tak seramai saat jam makan siang, namun tak setenang pagi hari. Pengunjung mulai berdatangan lagi, memesan teh dan kudapan atau dessert, lalu duduk lebih lama. Ada yang menyesap pelan sambil memperhatikan lalu-lalang pedestrian, ada yang membaca buku, ada yang menonton serial dari platform berbayar, ada yang berdialog santai, dan ada pula yang menutup telinga dengan headset—tenggelam dalam deadline pekerjaan atau pertandingan game online. Helia berdiri di balik konter bar, mengenakan apron gelap dengan bordir kecil logo Théologie di d**a kiri. Surainya diikat rapi. Air wajahnya tampak tenang, seola

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD