“Mama tanya! Bukan nuduh!” sentak Murni—ibu Gavin. “Merasa hebat kamu sampai Mama nanya anak sendiri aja disalahpahami?” “Gavin pusing, Ma!” balas Gavin, frustrasi. “Kami lebih pusing lagi, Gav!” potong Murni. “Nama keluarga bisa rusak kalau begini ceritanya! Papa kamu tuh lagi kampanye untuk pemilihan Walikota! Kita sudah habis banyak! Jangan sampai karena berita ini publik jadi ngga percaya sama Papa.” “Ma, ini bukan soal nama keluarga—” “Justru ini selalu soal itu!” suara Murni meninggi. “Kamu pikir kamu berdiri sendirian di posisi sekarang? Nama belakang kamu yang bikin pintu-pintu kebuka! Kamu pikir bisa jadi apa kamu tanpa nama Laksmana? Sekarang kamu bikin orang meragukan integritasmu, dan kamu bilang ini bukan soal keluarga?” Gavin menghembuskan napas kasar. Ia menatap lampu

