MEKANISME PERTAHAN

1534 Words

Hari ketujuh persidangan. Pukul 16:10 waktu Jakarta. Bintang mengetuk pintu kantor Ian sebelum mendorongnya sambil tersenyum dan mengangkat bawaan di tangan kanannya. “Dari Théologie untuk Papi Ian and team?” selorohnya. Ian terkekeh. “Masuk, A,” sahutnya. “Kok sendirian, Pi?” tanya Bintang seraya melangkah masuk. Ia meletakkan cup holder berisi empat gelas teh dan makanan pendampingnya. “Amanda lagi ada klien yang konsultasi. Maminya Aa tadi siang ngisi kuliah di kelasnya Bian.” “Serius, Pi?” “Yang mana?” balas Ian. “Yang Mami jadi dosen tamu di kelasnya Bian?” “Oh, serius banget! Mana Bian dari semalam sudah heboh banget biar maminya ngga lupa.” Bintang terkekeh. “Bukan malah nyuruh pura-pura ngga kenal, ya Pi? Kan banyak yang begitu.” Ian menggeleng. “Mana ada Bian begitu. So

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD