“Bunda?” lirih Helia begitu terbangun dari tidurnya. Hana tersenyum. Ia menutup buku yang tengah dibacanya, lalu mengulurkan tangan menggenggam jemari menantunya. Helia mengangkat genggaman mereka, lalu mencium takzim punggung tangan Hana. “Bunda sudah lama?” tanyanya kemudian. “Kok Ia ngga dibangunin?” “Teteh tidurnya pulas banget gitu kok. Masa mau Bunda ganggu?” balas Hana. “Badannya lagi butuh istirahat.” “Bunda sendiri?” tanya Helia lagi. “Ngga, sama Ayah. Ada Sam dan Bumi juga. Jihan aja yang ngga ikut, rame di rumahnya Anne dan Ben,” jawab Hana. Helia menghela napas pelan. “Iya... padahal Ia kepingin banget datang, Bund. Kepingin gendong bayi.” Hana menepuk lembut punggung tangan Helia, tak menimpali. Ia paham, ada banyak keinginan kecil yang harus dilepaskan Helia sejak hami

