CAHAYA PAGI

2526 Words

“Enak!” “Serius?” Helia mengangguk sambil menyesap lagi minumannya. Ia tak terburu-buru menelan. Ia membiarkan rasa pahit yang ringan itu menggelitik lidahnya, lalu suhu cairan itu menghangat, dan muncul sensasi manis tipis di ujung lidah. “Kamu dapat Da-Hong Pao tea ini dari mana?” tanyanya. Binar matanya jelas seperti anak kecil yang menemukan mainan langka. “Dikasih Om aku,” jawab Bintang. “Beliau juga dapatnya dari rekan atau mentor bisnisnya. Aku ketemu beliau pas ke Paris kemarin.” Helia tersenyum. “How lucky you are, Bintang.” “Setuju,” sahut Bintang sambil terkekeh. “Dan aku lebih beruntung lagi karena kenal orang yang ngerti cara ngeracik teh ini dengan bener.” Helia ikut terkekeh. Ia menurunkan cangkirnya ke meja. “Aku serius,” lanjut Bintang, mencondongkan sedikit tubuhn

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD