FRAMING

1906 Words

Lonceng pintu Théologie berdenting pukul 07.42 pagi. Nadanya sama seperti hari-hari sebelumnya, ringan dan jernih. Helia berdiri di balik konter, merapikan susunan cup kertas yang sedikit mencong. Ia sudah berada di sana sejak pukul tujuh. Terlalu pagi untuk seseorang yang hanya tidur tiga jam lebih sedikit, namun tubuhnya menolak diam di apartemen. Diam justru membuat pikirannya ribut dan berdengung. “Pagi, Kak.” Millie masuk dengan tote bag kain yang tersampir di bahunya. Surainya terlihat masih agak lembap. Ia berhenti sejenak, menatap Helia lebih lama dari biasanya. Bukan karenabukan heran ataupun curiga. Lebih seperti memastikan kondisi bosnya. “Pagi,” jawab Helia. Suaranya tetap stabil, ramah, seolah tak menyimpan kegelisahan apa pun. Millie tak bertanya. Ia menyimpan tasnya,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD