“Lapar ngga, Izora?” Helia mengangguk. “Banget, A.” “Kita cari comfort food ya?” “Mau ke La Théière Bleue, ngga A? Kok aku kangen ya?” Bintang tersenyum simpul. “Oke, sayang.” Ia beralih tatap ke yang lainnya. “Gimana? Ada yang kepengin ke tempat lain? Kita bisa janjian—“ “Aku mau ikut,” potong Arani seraya merangkul adiknya. Dan tak ada yang menimpali dengan ide lain. Gyan hanya mengangguk, Fabian mengangkat tangan kananya dengan ibu jari dan telunjuk membentuk alfabet O. Seolah semua paham, hari itu bukan soal mencoba tempat baru, melainkan beristirahat di tempat yang terasa aman. Pukul 13.07 waktu setempat. Mobil berhenti di salah satu jalan kecil Versailles. Area itu jauh dari hiruk-pikuk wisata, juga dari lalu lintas padat. Bangunan-bangunan batu berdiri dengan jarak yang tera

