Sesi kedua. Kini, giliran Helia. Helia merapikan blazernya, tangannya menggenggam tumbler kecil. Bukan untuk meneguk isinya, melainkan untuk memastikan ia punya sesuatu yang nyata agar tak merasa melayang. Hakim menyebutkan lengkap nama dan identitasnya, mengkonfirmasi ulang agar tak ada kesalahan data. Jaksa kembali berdiri di tengah ruang sidang, menghadap kamera seolah bersitatap dengan saksi korban utama. “Madame Helia, apakah Anda bisa mendengar kami dengan jelas?” Helia mengangguk. “Bisa.” “Apakah Anda sekarang berada dalam kondisi aman?” “Ya, saya aman.” “Apakah ada siapa pun di ruangan yang menekan Anda untuk menjawab dengan cara tertentu?” Helia menggeleng. “Tidak ada.” April menatapnya, mengangguk pelan, memberi dukungan tanpa kata. Jaksa mulai mengajukan pertanyaan in

