Hampir Saja

1469 Words

Serena melangkah keluar dari kantor Jevynn dengan langkah yang cepat. Udara siang yang hangat menyergap kulitnya, tapi tak mampu mencairkan dingin yang merayap di hatinya. Ucapan Jevynn masih bergema di telinganya. Ucapan itu mengiris, meninggalkan luka yang dalam. Serena menggigit bibirnya, berusaha menahan gejolak emosi yang mendidih dalam dadanya. Dia tidak pernah bermaksud menjebak Jevynn. Kehamilannya adalah sebuah kejutan bagi mereka berdua—sebuah berkah yang tiba-tiba berubah menjadi beban bagi Jevynn. Dia tidak menuju ke mobilnya yang terparkir di sisi kanan jalan. Kakinya membawanya ke arah kiri. Serena tidak ingin pulang sekarang. Tidak dalam keadaan seperti ini. Dia butuh udara, butuh waktu untuk berpikir. Trotoar yang ramai dipenuhi orang-orang yang sibuk dengan ur

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD