Di jalan pulang, Aya memegang erat surat pengunduran dirinya yang sudah disetujui. Ia sudah menutup pintu karier profesionalnya, sebuah pintu yang menawarkan kemandirian dan keamanan finansial. Keputusan Aya sudah bulat: Ia memilih jalan yang penuh pengorbanan, menempatkan rumah tangga dan si kembar di atas segalanya.
Kini, seluruh beban finansial dan janji masa depan benar-benar 100% berada di pundak Tama. Tidak ada lagi jaring pengaman. Aya harus membuktikan bahwa keputusannya untuk fokus di rumah akan setimpal dengan pengorbanan suaminya.
Aya kini fokus pada rumah tangga. Ia tahu, pengorbanannya adalah wujud nyata dari cintanya pada keluarga kecilnya. Namun, di balik rasa damai itu, tersembunyi kekhawatiran besar: kini, satu-satunya sumber pendapatan adalah gaji Tama. Semua janji besar Tama harus dipenuhi, tanpa ada jaring pengaman finansial lain. Beban seumur hidup itu kini sepenuhnya berada di pundak suaminya, dan ia hanya bisa mendukungnya dari rumah.
***
Dua hari setelah Aya resmi mengajukan surat pengunduran diri, suasana di rumah kontrakan kecil mereka terasa campur aduk. Ada kedamaian karena Aya kini fokus penuh pada si kembar, Alif dan Arif, namun ada ketegangan finansial yang baru dan sangat nyata. Tama kini harus kembali bekerja dengan status baru: satu-satunya tulang punggung keluarga dengan empat mulut untuk diberi makan.
Bulan pertama kehidupan Alif dan Arif adalah campuran keajaiban yang meluluhkan hati dan kelelahan yang mematikan. Kontrakan kecil mereka kini berbau minyak telon, bedak bayi, dan aroma masam popok basah. Tama dan Aya, meskipun tidur mereka tidak pernah lebih dari dua jam berturut-turut, menikmati peran baru mereka. Tama sering begadang, menggendong Arif yang rewel sementara Aya menyusui Alif, dan momen-momen itu terasa seperti puncak cinta mereka. Mereka adalah sebuah tim yang sempurna, meskipun wajah mereka selalu terlihat pucat.
Namun, kegembiraan itu mulai terkikis oleh kenyataan pahit yang datang dari dua sumber: fisik dan finansial.
Masalah utama mereka adalah Air s**u Ibu (ASI). Menyusui bayi kembar, apalagi bayi laki-laki yang nafsu makannya luar biasa, adalah perjuangan berat. Aya sudah berusaha keras. Ia mengikuti semua saran nutrisi dari dokter dan ibunya. Tama memastikan Aya mengonsumsi sayuran hijau, protein, dan minum air putih yang cukup. Namun, betapapun kerasnya Aya mencoba, tubuhnya tidak sanggup memenuhi permintaan ganda.
Alif dan Arif selalu terlihat kelaparan. Mereka menangis tidak sabar setelah menyusu kurang dari sepuluh menit, dan tangisan mereka bukan lagi tangisan biasa, melainkan tangisan frustrasi yang memilukan.
"Kenapa mereka masih rewel, Sayang? Kamu sudah menyusui mereka bergantian, kan?" tanya Tama suatu malam, saat ia melihat Aya hampir menangis karena kelelahan menyusui.
"Aku sudah coba, Tam. Tapi payudaraku terasa kosong. Produksinya tidak cukup cepat," lirih Aya, suaranya dipenuhi rasa bersalah. Ia merasa gagal sebagai seorang ibu. "Mereka seakan terus kelaparan, dan aku tidak bisa melakukan apa-apa."
Mereka membawa si kembar ke bidan untuk ditimbang. Hasilnya menguatkan kecemasan mereka: berat badan Alif dan Arif naik, namun tidak signifikan, di bawah batas ideal untuk bayi kembar usia tiga bulan. Bidan menyarankan mereka untuk segera memberikan suplementasi s**u formula (sufor) yang memiliki nutrisi tinggi, setidaknya dua kali sehari.
Ini adalah pukulan telak ganda bagi Aya. Secara emosional, ia merasa gagal. Secara finansial, ini adalah mimpi buruk.
Tama, meskipun berat, langsung pergi ke apotek dan membelikan s**u formula yang direkomendasikan dokter—jenis premium yang diformulasikan khusus untuk bayi dengan berat lahir rendah. Ia kembali dengan kotak s**u berukuran besar dan struk pembelian yang membuat Tama menelan ludah.
"Aku beli yang paling besar, Sayang. Kata apotekernya, ini bisa hemat sedikit," ujar Tama, berusaha menyembunyikan kekhawatiran di matanya.
Aya mengambil struk itu. Angka yang tertera di sana membuat jantungnya mencelos. Harga satu kotak s**u formula setara dengan separuh uang belanja mingguan mereka. "Ini mahal sekali, Tam. Bagaimana kita bisa terus membeli ini? Gaji kita ...."
"Jangan dipikirkan. Itu urusanku. Tugasmu adalah sehat dan mengurus mereka. Jangan stres," potong Tama cepat, meskipun ia tahu bahwa sufor itu telah membuat perencanaan keuangan mereka yang sudah ketat menjadi kacau balau.
***
Tekanan emosional Aya semakin parah setelah Ajeng, Ibu Tama, datang berkunjung. Ajeng melihat botol s**u formula di meja dapur dan raut wajahnya langsung berubah.
"Aya! Kenapa ini ada s**u formula?" tanya Ajeng, nadanya menuduh.
Aya berusaha menjelaskan dengan tenang. "Maaf, Bu. ASI saya tidak mencukupi untuk mereka berdua. Berat badan mereka kurang, jadi dokter menyarankan sufor untuk tambahan nutrisi."
Ajeng menghela napas panjang, tatapannya menyiratkan penghakiman. "ASI tidak cukup? Apa yang kamu makan? Dulu Ibu mengurus kalian bertiga, menyusui kalian semua sampai dua tahun, dan ASI Ibu selalu melimpah! Kamu itu Ibu, harus berjuang!"
Ajeng tidak memahami ilmu menyusui modern, apalagi kompleksitas menyusui bayi kembar. Ia hanya berpegangan pada mitos dan pengalaman masa lalunya.
"Kamu terlalu banyak pikiran pasti! Stres, makanya ASI-mu macet. Kamu harus santai, fokus. Kamu sudah berhenti kerja, seharusnya fokusmu cuma ASI! Kamu dengar ya, s**u formula itu tidak baik. Kamu merusak pertahanan tubuh cucu-cucu Ibu!" Ajeng menyalahkan stres Aya, ironisnya, ia sendiri yang baru saja menambah stres itu.
Aya merasa air matanya mendesak keluar. Ia sudah berusaha keras: makan katering sehat, minum ramuan tradisional, dan begadang untuk memompa ASI. Semua usahanya dianggap nol hanya karena Ajeng melihat sekotak s**u formula.
Tama yang mendengar perdebatan itu segera masuk. "Bu, hentikan! Jangan menyalahkan Aya. Aya sudah berjuang mati-matian. Masalah ASI itu murni masalah fisik. Ibu tidak mengerti. Dokter sudah menyarankan ini!" bela Tama, berdiri di depan Aya.
Ajeng mendengus, "Ibu tahu yang terbaik! Pokoknya, kurangi itu. Kamu harus coba lagi!"
Perendahan dari Adik-Adik Tama
Tak lama setelah Ajeng pergi, Rita dan Tari, kedua adik Tama, datang. Mereka datang bukan untuk membantu, melainkan untuk melihat kondisi rumah tangga kakak mereka yang kini dipimpin oleh Aya. Mereka melihat Aya yang terlihat lelah, keningnya berkerut, dan tumpukan popok bekas di sudut.
"Wah, Kak Aya, kok udah pakai sufor sih? Padahal kan Kak Aya udah nggak kerja lagi, ya?" sindir Tari, dengan senyum tipis yang meremehkan. "Harusnya waktu luang di rumah bisa dipakai buat fokus booster ASI."
Rita menimpali dengan lebih tajam. "Sudahlah, Kak. Kalau nggak keluar, pakai sufor aja. Jangan dipaksain, kasihan bayinya kelaparan. Lagian, sufor kan mahal. Kalau tahu-tahu nggak bisa nyusuin, kenapa dulu nggak coba cari kerja dari rumah aja? Sekarang jadinya Kak Tama yang kerja keras buat bayar s**u mahal."
Perkataan Rita menusuk Aya tepat di ulu hati. Mereka bukan hanya merendahkan usahanya sebagai ibu, tetapi juga menyangkutpautkan kegagalannya dalam menyusui dengan pengorbanan karier dan beban finansial Tama. Ini adalah pengkhianatan emosional.
Tekanan dari Ajeng dan sindiran dari adik-adik Tama membuat Aya limbung. Malam itu, ia menangis terisak di kamar mandi. Ia merasa malu, tidak berguna, dan ia yakin stres ini akan semakin memperburuk produksi ASI-nya. Otak Aya dipenuhi pikiran negatif: Aku sudah mengorbankan gaji besar, dan sekarang aku malah menambah beban finansial Tama dengan s**u formula yang sangat mahal.