Rencana Aya.

1243 Words
​Visi bulan madu orang tua yang bahagia dan idealis telah berakhir. Mereka kini berada di medan pertempuran: pertempuran melawan rasa lelah, pertempuran melawan kekurangan fisik, dan pertempuran melawan keluarga serta neraca keuangan yang terus minus. ​Tama menemukan Aya menangis di tempat tidur. Ia memeluk Aya erat-erat. ​"Lupakan semua omongan mereka, Sayang. Mereka tidak tahu apa-apa," bisik Tama. "Aku yang menyuruh kamu berhenti bekerja. Aku yang membeli s**u formula itu. Aku tegaskan padamu, masalah uang itu masalahku. Masalah ASI itu masalah Tuhan. Kamu sudah melakukan yang terbaik. Jangan pernah merasa gagal." ​Tama tahu, janji manisnya untuk menanggung beban sendirian kini sedang diuji keras oleh realitas. Pengeluaran popok (mereka menghabiskan dua lusin sehari) dan s**u formula yang mahal adalah hint konflik finansial yang sebenarnya, yang tidak bisa lagi ditutupi oleh kata-kata manis. Mereka baru saja memasuki Bagian II dari perjuangan mereka: bertahan hidup di ambang kebangkrutan demi cinta. ​Malam itu, setelah berhasil menidurkan si kembar yang akhirnya diam setelah bergantian menangis selama dua jam, Tama dan Aya duduk di meja makan dengan suasana hening yang mencekam. Di depan mereka terhampar buku tabungan yang semakin tipis, laporan gaji terakhir Tama, dan catatan pengeluaran bulanan yang berlipat ganda—khususnya untuk kebutuhan bayi kembar. ​"Oke, Sayang. Sekarang kita harus benar-benar realistis dan ekstrem dalam penghematan," kata Tama, mengambil pena dan mulai menulis. Wajahnya terlihat sangat lelah, memancarkan kurang tidur, tapi penuh tekad membara. "Mulai bulan ini, pemasukan kita nol di luar gajiku. Semua pengeluaran, dari sewa kontrakan sampai popok, harus ditanggung oleh gajiku." ​Aya mengangguk, menahan napas. Ia sudah menghitung berulang kali. "Aku tahu, Tam. Tabungan kita ... setelah dipakai untuk biaya persalinan dan sedikit perawatan tambahan untuk Alif, sisanya tidak banyak. Kita tidak boleh menyentuh dana itu kecuali untuk keadaan darurat medis." ​Tama mulai merinci gajinya dengan teliti. Ia membagi seluruh gajinya menjadi tiga kolom besar: Kebutuhan Dasar (30%), Bayi Kembar (40%), dan Cicilan/Utang (30%). ​"Di kolom Kebutuhan Dasar, yang paling besar adalah sewa kontrakan dan tagihan bulanan. Lalu listrik, air, dan bensin motorku. Kita tidak boleh boros sama sekali. Aku sudah memutuskan, aku akan naik angkutan umum sesekali dan motor hanya untuk saat lembur. Kita juga harus mengurangi makan daging, lebih banyak sayuran dan protein murah seperti tahu tempe. Aku akan bawa bekal makan siang dari rumah," ujar Tama, mengatur nada bicaranya agar terdengar logis, bukan mengeluh. ​"Aku setuju. Aku akan lebih fokus pada masakan hemat. Menu kita akan didominasi tempe, telur, dan sayur mayur yang murah," timpal Aya, mencatat setiap detail dengan serius. Ia merasa perannya sekarang adalah memastikan setiap rupiah dari gaji Tama digunakan seefisien mungkin. ​Kemudian, mereka beralih ke kolom yang paling menakutkan: Bayi Kembar. ​"Lihat ini, Sayang. Popok sekali pakai," Tama menunjuk angka yang ia tulis. "Dua bayi, berarti setidaknya lima belas popok sehari. Itu pengeluaran yang gila! Belum lagi s**u formula. Meskipun kamu menyusui, tapi untuk kembar, suplai ASI-mu pasti tidak stabil setiap saat, kita harus punya cadangan s**u formula yang banyak, terutama kalau aku sedang tidak di rumah. Kita harus beli s**u merek yang bagus, karena mereka lahir sedikit prematur, kita tidak bisa ambil risiko pada nutrisi mereka." ​Aya menelan ludah. Angka-angka di kolom itu terasa mencekik. Itu adalah pengeluaran wajib yang tidak bisa dikompromikan. ​Tama melanjutkan dengan penuh pengorbanan, "Kita harus mengurangi semua pengeluaran pribadi yang tidak perlu. Aku sudah memutuskan untuk menjual beberapa barang berharga. Aku akan jual Playstation dan koleksi action figure-ku. Uangnya bisa kita pakai untuk beli stok diapers dan voucher s**u formula untuk beberapa bulan ke depan. Aku juga akan membatalkan semua kartu anggota gym dan coffee shop." ​Melihat Tama yang sangat detail dan rela mengorbankan hobi serta barang kesayangannya, Aya merasa lega sekaligus terharu hingga air matanya menetes. Suaminya benar-benar memikul tanggung jawab ini dengan keseriusan penuh. Ia tidak pernah mengeluh atau menyalahkan Aya atas keputusan untuk memiliki anak secepat ini. ​"Aku minta maaf ya, Tam. Gara-gara aku, semua jadi susah dan kamu harus mengorbankan hobi kesukaanmu," bisik Aya, air matanya membasahi pipi. ​Tama segera menghentikan aktivitasnya, meraih tangan Aya, dan menciumnya lama. "Jangan pernah bilang begitu, Sayang. Ini adalah tanggung jawabku, dan ini adalah hal yang paling berharga yang pernah aku miliki: kamu, Alif, dan Arif. Kamu sudah mengorbankan karier, jadi tugasku sekarang adalah memastikan kamu tidak perlu khawatir tentang uang. Aku yang meminta kamu berhenti, jadi aku yang harus menanggung konsekuensinya." ​Tama menatap Aya dalam-dalam. "Aku hanya butuh keyakinan darimu. Aku akan bekerja keras, sangat keras. Aku mungkin akan sering pulang larut, dan saat di rumah aku mungkin harus sibuk freelance lagi. Apakah kamu yakin aku mampu menafkahi kalian semua sendirian? Gaji ini ... ini adalah batasan kita. Aku mungkin tidak bisa membelikan mu baju baru, atau mengajakmu ke kafe mahal. Tapi aku janji, aku akan memastikan rumah ini punya atap yang kokoh, dan anak-anak kita tidak kelaparan. Aku akan selalu berusaha menjadi pria yang bertanggung jawab." ​Mendengar kejujuran dan tekad Tama, semua keraguan Aya lenyap. Ia melihat seorang pria yang dulunya hanya memikirkan gairah, kini telah berubah menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab penuh. ​"Aku yakin seratus persen, Tama," jawab Aya tegas, membalas tatapan suaminya. "Aku yakin kamu mampu. Kamu sudah membuktikannya sejak hari pertama aku hamil. Aku tidak butuh kemewahan, Tam. Aku hanya butuh kamu di sini, dan kamu sudah membuktikannya. Fokusmu sekarang adalah bekerja keras di kantor, aku akan fokus mengelola keuangan dan menjadi ibu yang efisien untuk Alif dan Arif. Kita akan melewati ini." ​Mereka berbagi pelukan panjang di tengah tumpukan tagihan. Malam itu, mereka menegaskan kembali perjanjian mereka: Tama menjadi chief earning officer, Aya menjadi chief operating officer—manajer rumah tangga yang memastikan setiap pengeluaran seefisien mungkin. Tama berjanji akan mengambil setiap lembur yang ditawarkan kantornya dan melanjutkan pekerjaan freelance desain grafisnya. *** ​Tiga bulan pertama setelah kelahiran Alif dan Arif adalah masa yang paling berat bagi Aya dan Tama. Kegembiraan memiliki si kembar tercampur dengan kelelahan akut dan tekanan finansial yang kian terasa mencekik. Popok, s**u formula, dan biaya imunisasi rutin terasa menguras gaji tunggal Tama lebih cepat daripada perkiraan mereka. ​Meskipun Aya sudah menjadi manajer rumah tangga yang sangat efisien, menghemat setiap rupiah, kenyataan tetap pahit: gaji Tama, meskipun sudah dilembur dan ditambah dari freelance, tidak cukup untuk menabung signifikan. Mereka hanya bisa bertahan, hidup dari gaji ke gaji, tanpa ada buffer yang aman. ​Suatu pagi, saat Tama baru saja pergi ke kantor, Aya duduk termenung di samping dua buaian. Ia melihat kontrak kerja lamanya. Perasaan rindu akan kemandirian finansial dan dunia profesionalnya muncul kembali. Ia merasa bersalah melihat Tama harus bekerja hingga larut malam. ​Sore harinya, saat Tama baru pulang dengan wajah lelah, Aya mengajukan idenya. ​"Tam, bagaimana kalau aku cari kerja lagi?" tanya Aya hati-hati, saat mereka sedang makan malam tempe dan sayur sop. ​Tama langsung menghentikan suapannya. Wajahnya menegang. Ia sudah melarang hal ini, dan ia tahu alasannya masih kuat. ​"Kerja lagi, Sayang? Kamu yakin?" tanya Tama, nadanya tegas, menahan emosi. "Aku tahu kamu bosan di rumah, tapi coba pikirkan logikanya, Ay. Si kembar itu butuh pengasuh dua orang, atau setidaknya satu pengasuh dengan gaji dua kali lipat dari gaji normal. Kamu harus membayar gaji pengasuh, belum lagi biaya transportasi dan makan siangmu. Setelah dihitung, gajimu akan habis, ludes, hanya untuk membayar pengasuh saja. Ujung-ujungnya, kita hanya mendapatkan kelelahan ganda tanpa peningkatan finansial yang berarti." ​Aya mendengarkan, ia tahu argumen Tama benar. Namun, ia merasa putus asa dengan kondisi keuangan mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD