Konflik dalam Diam.

1065 Words
Aya menyambut mereka dengan senyum yang dipaksakan. Ia segera menyiapkan minuman dan menyuguhkan beberapa kue basah dari stok Dapur Aya. ​"Lho, Kak Aya, kok ini kuenya sama seperti yang di story w******p Kakak? Ini yang dijual ya? Mau coba deh," kata Tari, mengambil kue dengan santai, seolah-olah kue itu adalah hidangan gratis yang sudah menjadi haknya. ​Rita, yang kini biaya kuliahnya baru saja dibayar penuh oleh Aya dan Tama, justru membuka serangan. ​"Iya, Kak Aya. Aku lihat di IG, kamu sekarang jualan kue. Bagus sih, Kak, daripada di rumah saja. Tapi kalau hasilnya cuma cukup buat nambah popok, kenapa Kakak resign? Kan gaji Kakak dulu jauh lebih besar daripada gaji Kak Tama sekarang," ujar Rita, nadanya terdengar polos namun sangat menusuk. ​Aya menahan diri, tangannya meremas serbet di pangkuannya. "Aku jualan karena aku suka, Rita. Lagipula, aku tidak tega meninggalkan Alif dan Arif pada pengasuh." ​Ajeng, yang sedari tadi memperhatikan dengan mata menyipit, langsung menyambar. ​"Lihat! Dia terlalu manja dan perhitungan, Tam! Wanita lain itu lebih pengertian! Istri Pak RT saja, anaknya tiga, dia masih bisa bekerja di pabrik dan menyewa pengasuh. Dia tidak membuat suaminya kelimpungan," ujar Ajeng, tanpa malu membandingkan Aya dengan wanita yang tidak Aya kenal. ​Tari ikut menimpali sambil melihat-lihat seisi rumah kontrakan yang sederhana. "Iya, Kak Tama. Aku lihat teman-teman kuliahku, pacar mereka semua wanita karier, mandiri, bahkan ada yang memberi modal usaha pada pacarnya. Mereka tidak membuat suaminya pusing soal uang. Kok kamu sekarang jadi pelit gini sih, Mas? Dulu waktu Mas masih single, Mas sering beliin kita baju bagus. Sekarang motor Tari rusak saja, harus nunggu uang dari Kak Aya dulu." ​Kalimat "Kak Tama semakin pelit setelah menikah" adalah pukulan telak yang merobohkan pertahanan Aya. Itu bukan lagi sindiran soal uang, tapi tuduhan bahwa Aya adalah penghalang kebahagiaan dan kemurahan hati Tama terhadap keluarganya sendiri. Aya merasa dihina, dicap sebagai istri yang egois. ​Aya tidak tahan lagi. Ia merasa martabatnya sebagai seorang wanita, istri, dan ibu diinjak-injak di hadapan suaminya sendiri. Ia bangkit, meletakkan gelas dengan sedikit keras di meja. ​"Cukup, Bu. Cukup, Rita, Tari," kata Aya, suaranya tenang, tetapi setiap kata terasa seperti es yang menusuk. ​Ajeng terkejut melihat Aya berani angkat bicara. "Lho, kamu berani melawan? Apa yang kamu tidak suka dari perkataan kami?" ​"Aku tidak suka diperlakukan seperti ini!" seru Aya, kini nadanya meninggi. "Aku sudah berhenti dari pekerjaan bergaji tinggi, demi merawat cucu Ibu! Aku begadang setiap malam, membuat kue di tengah tangisan si kembar, demi menambal kekurangan finansial yang disebabkan oleh tuntutan Ibu!" ​Aya menatap Ajeng dengan mata berkaca-kaca, namun penuh keberanian. "Aku tidak pelit, Bu. Tapi aku harus memprioritaskan anak-anak ku! Mereka lebih penting daripada biaya kuliah adik-adik Tama! Kalau Ibu mau aku bantu Rita dan Tari, tolong hargai pengorbanan ku dan jangan pernah lagi membandingkan aku dengan wanita lain, apalagi di hadapan suami ku sendiri!" ​Ajeng tersentak. Selama ini, ia terbiasa mendominasi menantunya. ​"Kamu berani ya, Aya! Kamu menuduh ku menuntut? Aku hanya mengingatkan anak ku tentang kewajibannya! Kamu itu sekarang hanya di rumah, tidak punya penghasilan. Jangan mengatur-atur keuangan anak ku!" balas Ajeng, amarahnya meledak. ​"Justru karena aku tidak punya penghasilan tetap, aku harus mengatur! Kalau aku tidak atur, cucu-cucu Ibu itu akan sakit karena tidak bisa vaksin atau kekurangan gizi karena sufor yang kita beli paling murah! Kewajiban Tama sekarang adalah keluarga kecilnya, Bu!" balas Aya, air matanya sudah tumpah, namun ia tidak mundur. ​Rita dan Tari terdiam, terkejut melihat cekcok terbuka itu. ​"Kamu ini menantu tidak tahu diri! Kamu hanya mengambil uang anak ku, dan sekarang kamu memutuskannya dari keluarganya!" teriak Ajeng. ​Tama, yang sedari tadi membeku karena shock melihat cekcok antara ibu dan istrinya, akhirnya tersadar. Ia berdiri di tengah, mencoba menengahi. ​"Bu! Aya! Cukup!" seru Tama, memisahkan mereka berdua. "Bu, tolong jangan bicara seperti itu lagi. Aya, kamu tenang!" ​"Kamu lihat, Tama! Istrimu ini yang sekarang mengatur! Kamu didominasi oleh istrimu!" Ajeng menunjuk Aya dengan telunjuknya yang gemetar. ​Aya, terengah-engah, menatap Tama, menunggu pembelaan. Namun, Tama hanya bisa berdiri kaku di tengah-tengah, tidak mampu memihak. Ia tahu Ajeng salah, tapi ia takut melukai hati ibunya. Ia telah gagal lagi sebagai suami. ​"Kami permisi," kata Ajeng, menarik Rita dan Tari keluar dari kontrakan itu dengan wajah merah padam. Ia tidak lagi melihat si kembar. "Kamu akan melihat akibatnya, Tama! Jangan salahkan Ibu jika nanti terjadi apa-apa!" ​Pintu kontrakan dibanting keras. Cekcok mertua dan menantu telah resmi dimulai. Rumah tangga Tama dan Aya kini bukan hanya berjuang melawan kemiskinan, tetapi juga melawan agresi dan kendali dari luar. Perasaan Aya terbagi dua: sakit hati yang luar biasa, namun lega karena ia akhirnya berani menentukan batas. ​*** Setelah ledakan emosi yang disaksikan oleh Tama dan adik-adiknya, hubungan antara Aya dan Ajeng memasuki babak baru yang lebih dingin dan mencekik: konflik dalam diam. Tidak ada lagi kunjungan dadakan dari Ajeng. Komunikasi hanya terjadi melalui Tama, atau sebatas formalitas yang sangat kaku jika mereka terpaksa bertemu. ​Aya memutuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari interaksi langsung dengan mertuanya. Ia tidak lagi berusaha menyajikan kue Dapur Aya atau menyambut Ajeng dengan senyum. Ia fokus pada dunianya yang kecil: si kembar, baking, dan mengelola keuangan yang sangat ketat. ​Di sisi lain, Ajeng juga menjaga jarak, namun dominasinya masih terasa kuat. Ia tidak lagi meminta uang secara langsung pada Aya, melainkan menekan Tama dengan permintaan yang lebih halus namun terus-menerus, seperti meminta Tama mengantar barang ke rumahnya di malam hari atau membayar tagihan yang mendadak muncul di tengah bulan. ​Setiap kali Tama harus berinteraksi dengan ibunya, ia pulang dengan wajah tegang, menambah ketegangan yang sudah ada di rumah. ​Suasana rumah tangga Aya dan Tama berubah drastis. Cinta mereka tidak hilang, namun kehangatan dan canda tawa yang dulu ada kini digantikan oleh rasa lelah yang menumpuk dan kecemasan yang mendalam. ​Tama, yang gagal menjadi penengah dan pelindung istrinya, kini terperangkap di antara dua wanita paling penting dalam hidupnya. Ia tahu Aya benar, tetapi ia tidak sanggup memutus tali emosional yang mengikatnya pada ibunya. ​Ia sering pulang terlambat dari kantor, bukan hanya karena lembur, tetapi karena ia menghindari keheningan dan ketegangan di rumah. Saat di rumah pun, Tama cenderung menghindari percakapan yang mendalam dengan Aya. ​Aya juga memilih untuk fokus pada kesibukannya. Ia bekerja lebih keras di Dapur Aya, menggunakan baking sebagai pelarian dan penegasan diri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD