Tepat pukul sembilan pagi, saat Aya sedang duduk di lantai kamar, menyangga punggungnya ke dinding sambil menyusui Alif di p******a kiri dan memberikan Arif s**u formula di botol, Tama masuk. Raut wajahnya kaku, tidak ada jejak kelembutan yang biasa ia tunjukkan pada anak-anaknya.
Tama tidak berbasa-basi. Ia langsung berdiri di depan Aya, tangannya mengepal.
"Aku sudah bicara lagi dengan Ibu," Tama memulai, suaranya pelan tapi tajam, dingin dan penuh amarah yang entah ditujukan pada siapa. "Uang yang kita berikan tidak cukup, Ay. Sama sekali tidak cukup."
Aya menahan napas. Ia menatap suaminya, air s**u di payudaranya terasa berhenti mengalir karena stres.
"Tama, kita sudah hitung semalam. Itu batas maksimal kita. Itu uang untuk popok dan sufor si kembar minggu depan," jawab Aya, berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang demi ketenangan si kembar yang kini mulai gelisah.
Tama menghela napas kasar, seolah udara yang dihirupnya terasa berat karena penuh rasa bersalah yang dilimpahkan Ajeng.
"Kamu tidak mengerti martabat, Aya!" bentak Tama, kali ini suaranya meninggi, membuat Arif tersentak kaget dan Alif mulai merengek. "Ibu meneleponku lagi, dia bilang aku adalah anak yang gagal. Dia bilang aku tidak bisa menanggung beban keluargaku sendiri dan sekarang aku menyeret-nyeret istriku yang pelit untuk menolak kewajibanku!"
Tama tidak menceritakan detail provokasi Ajeng, tapi Aya bisa membayangkannya dengan jelas. Ajeng pasti menggunakan senjata pamungkasnya: perbandingan, rasa bersalah, dan sindiran terhadap Aya. Ajeng pasti mengatakan bahwa Aya, yang dulu memiliki gaji besar dan kini hanya di rumah, seharusnya malu karena suaminya harus memohon pengampunan karena kekurangan uang.
Kemarahan Tama bukanlah kemarahan yang tulus pada situasi, melainkan amarah yang dialihkan, amarah pada dirinya sendiri karena tidak mampu memenuhi tuntutan ibunya, dan kini amarah itu ia tumpahkan pada satu-satunya orang yang seharusnya menjadi sekutunya.
"Ibu bilang, demi Tuhan, dia tidak akan berhenti menekan sampai biaya kuliah Rita lunas, Ay. Sampai buku Tari terbeli. Dia bilang kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu harus mendukung kewajibanku sebagai anak sulung!" Tama berteriak, amarahnya sudah di luar kendali.
Tama mendekati Aya, tatapannya menuntut. "Aku minta kamu memberikan semua uang yang sudah kamu sisihkan itu, Ay. Berikan semua yang Ibu butuhkan. Berikan semua yang sudah kita alokasikan."
Jantung Aya mencelos. Permintaan Tama terasa lebih menyakitkan daripada tamparan. Uang yang Tama minta adalah sisa laba bersih dari Dapur Aya, uang yang ia hasilkan dengan susah payah, begadang sambil mengurus bayi kembar, uang yang menjadi pembuktian dirinya bahwa ia bukan "beban". Uang itu adalah uang terakhir yang mereka miliki untuk menambal kekurangan gaji Tama bulan ini.
Aya berusaha bangkit, melepaskan Alif dari payudaranya dan menidurkan Arif di sebelahnya. Wajahnya kini bukan lagi penuh kekecewaan, tapi pengkhianatan.
"Tama, kamu waras? Kamu tahu apa yang kamu minta?" tanya Aya, suaranya bergetar. "Itu bukan uang jajan, Tama! Itu uang untuk membeli s**u formula lagi minggu depan. Itu uang yang kita butuhkan agar kita tidak kehabisan popok di tengah malam! Itu uang lebih terakhir yang kita miliki untuk bertahan bulan ini!"
Aya mengambil buku anggaran mereka dan menunjuk ke angka-angka yang sudah dicoret-coret dengan tinta hitam. "Aku sudah mengorbankan gaji besar, aku sudah direndahkan Ibumu. Sekarang, aku bekerja keras membuat kue di sela-sela mengurus anak, dan kamu minta aku memberikan seluruh hasil usahaku hanya agar kamu tidak ditekan oleh Ibumu?"
Tama menolak melihat angka-angka itu. Ia sudah dibutakan oleh rasa bersalah dan tekanan Ajeng yang manipulatif.
"Aku janji, Ay! Aku janji!" seru Tama, putus asa. "Berikan saja uang itu semua, dan aku akan mencari lemburan tiga kali lipat. Aku akan ambil proyek desain di luar kantor. Kekurangan itu biar aku yang tutupi! Aku akan bekerja sampai pagi, tapi tolong jangan membuatku harus berhadapan dengan Ibu dan label 'anak gagal' itu lagi!"
Janji Tama terdengar seperti pelarian dan beban yang tak tertanggungkan. Tama tidak hanya meminta uang mereka, tapi ia juga menghapus semua validasi dan pengakuan atas perjuangan Aya. "Tugasmu hanya diam dan mengurus anak. Jangan membuatku pusing dengan perhitunganmu!"
Kalimat terakhir itu benar-benar menghancurkan Aya. Tama telah memilih: ia memilih untuk menenangkan ibunya dan menyelamatkan egonya dari label "anak gagal," daripada memilih kesehatan finansial dan emosional istrinya yang berjuang mati-matian.
Aya menyadari, ia tidak bisa lagi berargumen. Argumennya adalah logika, sementara argumen Tama adalah trauma emosional masa lalu yang dikendalikan oleh Ajeng.
Dengan mata yang menatap kosong, Aya berjalan ke laci dan mengambil amplop berisi uang tunai—laba bersih Dapur Aya dan uang sisa yang sudah dialokasikan untuk kebutuhan mendesak. Uang itu terasa berat dan panas di tangannya.
Ia meletakkan amplop itu di meja, di hadapan Tama.
"Ambil. Berikan semuanya," kata Aya, suaranya datar, tanpa emosi, namun tatapannya memancarkan kesedihan yang mendalam. "Aku harap, setelah ini, Ibumu puas, dan kamu tidak lagi merasa malu menjadi anak sulung."
Aya kembali ke si kembar, mengambil Arif ke dalam pelukannya. Ia tidak lagi melihat Tama. Ia telah menyerah. Uang mereka telah hilang, tetapi keretakan yang terjadi dalam rumah tangga mereka terasa jauh lebih mahal dan parah.
Tama mengambil amplop itu. Ia merasakan kemenangan yang hampa, kemenangan yang dibayar dengan pengkhianatan terhadap istrinya sendiri. Ia tidak berani menatap Aya. Ia tahu, ia telah menyakiti Aya jauh lebih dalam daripada yang pernah dilakukan Ajeng.
Sore itu, Tama kembali ke rumah Ajeng untuk menyerahkan sisa dana yang diminta. Aya ditinggal sendirian di rumah, menatap kosong ke langit-langit, sambil menenangkan si kembar yang mulai rewel karena lapar, karena ia tahu, mereka harus kembali menghemat s**u formula untuk beberapa hari ke depan.
***
Beberapa hari setelah insiden di mana Tama terpaksa menyerahkan semua uang terakhir mereka kepada Ajeng, suasana di rumah kontrakan terasa mencekik. Tama pergi bekerja dengan rasa bersalah yang tak terperikan, sementara Aya menjalani hari-harinya sebagai ibu dan penjual kue tanpa berkata-kata, energinya terasa terkuras habis.
Namun, drama keluarga belum berakhir. Rupanya, menyerahkan semua uang tidak memuaskan Ajeng; itu hanya memberinya amunisi baru untuk menyerang. Ajeng tahu bahwa uang yang diterima itu pasti berasal dari Dapur Aya dan sisihan kebutuhan si kembar.
Sore itu, Ajeng sengaja datang berkunjung—tanpa pemberitahuan—bersama Rita dan Tari, kedua adik Tama. Ini bukan kunjungan sayang pada cucu, melainkan kunjungan inspeksi dan penekanan moral.