Bulan pertama operasi Dapur Aya telah selesai, dan hasilnya, meskipun menguras tenaga Aya, memberikan sedikit napas lega bagi rumah tangga mereka. Dana yang dihasilkan dari penjualan kue basah sudah berhasil menambal defisit bulanan, terutama untuk membayar vaksinasi si kembar yang tertunda dan membeli kembali stok popok yang berkualitas lebih baik. Aya dan Tama mulai menemukan ritme yang memungkinkan mereka bertahan hidup, sebuah pencapaian kecil yang sangat berharga.
Namun, ketenangan itu ternyata sangat rapuh. Seperti jarum jam yang berdetak ke arah konflik, Ajeng kembali hadir, kali ini bukan melalui panggilan mendadak, melainkan melalui pesan w******p yang dikirim ke Tama pada tengah hari saat Tama sedang istirahat makan siang yang singkat.
Pesan itu berisi rincian tagihan baru: biaya perbaikan motor Tari yang mogok (karena dipakai untuk antar-jemput Rita kuliah) dan kebutuhan buku kuliah Rita yang harganya melambung tinggi. Angka yang diminta cukup besar, meskipun tidak sebesar permintaan Ajeng sebelumnya, dan sekali lagi, permintaan itu disertai nada tuntutan bukan permohonan.
Sore itu, saat Tama pulang, ia langsung menunjukkan pesan dari ibunya kepada Aya. Wajah Tama kembali diselimuti kecemasan, rasa bersalah, dan kelelahan yang luar biasa. Ia bahkan belum sempat melepas dasi.
"Ibu minta lagi, Ay," bisik Tama, nadanya putus asa, tangannya gemetar saat memegang ponsel. "Aku bahkan belum sanggup membayar utang freelance yang aku janjikan ke Ibu bulan lalu, dan sekarang ada tagihan lain lagi. Aku harus bagaimana?"
Aya yang baru selesai menyusui Alif dan Arif, mendengarkan dengan hati yang dipenuhi kejengkelan. Tiga bulan lalu, Ajeng menyebutnya "beban". Kini, Ajeng kembali menuntut uang hasil kerja keras suaminya, tanpa sedikit pun mempertimbangkan kondisi cucu-cucunya.
Namun, Aya memutuskan untuk mengesampingkan amarah pribadinya. Ia melihat penderitaan di mata suaminya. Ia tahu, Tama sekali lagi terperangkap di antara dua kewajiban yang saling bertentangan.
"Duduk, Tam. Kita bicarakan baik-baik. Jangan langsung panik dan merasa bersalah," kata Aya, membawa si kembar yang sedang tidur ke keranjang bayi di ruang tengah. "Kita sudah sepakat, kita adalah tim. Kita tidak akan membiarkan Ibu Ajeng menghancurkan keuangan kita lagi."
Aya, yang pada dasarnya masih memiliki hati yang tulus dan keinginan kuat untuk menyenangkan suaminya serta membangun hubungan yang lebih baik dengan mertuanya, memutuskan untuk mengambil langkah yang lebih diplomatis kali ini. Ia ingin Ajeng tahu bahwa mereka membantu karena cinta kepada Tama dan keluarga, bukan karena kewajiban buta.
"Kita harus membuat kesepakatan batasan, Tam," ujar Aya, membuka buku keuangan Dapur Aya di samping buku anggaran rumah tangga mereka. "Kita tidak akan memberikan semua yang Ibu minta, apalagi sampai mengorbankan kebutuhan Alif dan Arif lagi. Itu harga mati. Tapi, kita bisa memberikan sebagian, Tam. Setidaknya, untuk menunjukkan niat baik kita dan agar kamu tidak lagi merasa tertekan sebagai anak sulung."
Tama mendengarkan, matanya penuh harapan. Ia lega karena Aya tidak langsung marah, melainkan mengajukan solusi yang logis.
"Oke, kita hitung ya," kata Aya, memulai perhitungan yang sangat teliti. Suara Aya terdengar profesional, mengingatkan pada dirinya saat masih menjadi sekretaris CEO yang mengelola anggaran.
Aya merinci semua pemasukan bulan itu: gaji pokok Tama, uang lembur, sedikit dari freelance Tama yang baru masuk, dan laba bersih dari Dapur Aya. Ia sengaja mencantumkan laba Dapur Aya agar Tama melihat bahwa Aya benar-benar ikut berjuang.
Kemudian, ia menghitung kebutuhan tak terhindarkan dengan prioritas mutlak:
Sewa Kontrakan: Jumlah tetap.
Kebutuhan Pokok Keluarga: Makan (yang sudah dihemat ketat), listrik, air, bensin motor Tama.
Kebutuhan Wajib Si Kembar: Ini adalah prioritas utama dan tidak boleh dikompromikan. Aya mengalokasikan dana untuk bulk buy popok dan s**u formula premium (yang sekarang mereka mampu beli berkat Dapur Aya). "Kita tidak boleh lagi mengorbankan kualitas sufor, Tam. Kesehatan mereka yang utama."
Dana Darurat Mini: Sejumlah kecil dana disisihkan untuk keperluan medis mendadak si kembar.
Cicilan Utang Moral ke Orang Tua: Sedikit dana disisihkan untuk Galih dan Sarah, sebagai tanda itikad baik.
Setelah semua kebutuhan mendesak dan prioritas si kembar terpenuhi, Aya menunjukkan angka yang tersisa. Wajahnya serius.
"Ini, Tam. Inilah dana yang bisa kita sisihkan untuk Ibu. Kita hanya bisa memberikan sebagian kecil, yaitu sekitar 30% dari total yang Ibu minta," tegas Aya, menunjuk angka di buku itu. "Angka ini sudah termasuk 50% dari laba bersih Dapur Aya. Jika kita berikan lebih dari ini, kita akan kembali defisit bulan depan, dan kita akan kembali pusing mencari uang untuk sufor."
Tama menatap angka itu. Jumlah yang bisa mereka berikan memang jauh dari yang diharapkan Ajeng, tapi itu adalah jumlah yang jujur dan tulus, tanpa mengorbankan anak-anak mereka.
"Kamu yakin, Ay? Ibu pasti akan marah. Dia akan bilang kita perhitungan dan bilang kamu pelit," kata Tama khawatir, rasa takut akan konfrontasi dengan ibunya masih sangat terasa.
"Biarkan dia marah. Aku yang akan menanggung amarahnya," jawab Aya, nadanya kini tegas dan melindungi. "Ini adalah batasan yang kita buat, Tam. Kamu harus belajar mengatakan 'tidak' demi anak-anakmu dan rumah tanggamu. Kamu bilang aku manajer rumah tangga, dan ini adalah keputusan manajer. Kita punya kewajiban, tapi kita punya prioritas."
Tama akhirnya mengangguk. Ia memeluk Aya erat-erat, ia merasa Aya adalah benteng pertahanannya. Ia bersyukur memiliki Aya yang tidak hanya bekerja keras, tetapi juga mampu membuat batasan logis di tengah tekanan emosional yang melumpuhkannya.
Kesepakatan awal pun dibuat: mereka akan memberikan sekian rupiah kepada Ajeng. Tama akan secara jujur menyampaikan kepada ibunya bahwa jumlah itu adalah batas maksimal yang bisa mereka sisihkan setelah memprioritaskan Alif dan Arif. Meskipun ia tahu Ajeng akan menganggap dana itu "tidak sesuai" atau "tidak cukup," mereka telah memutuskan bahwa martabat finansial dan kesehatan anak-anak mereka lebih penting daripada menghindari amarah mertua.
Tama kembali menghubungi Ajeng. Ia menjelaskan situasinya dengan hati-hati. Meskipun Ajeng merespons dengan nada kecewa dan dingin, untuk pertama kalinya, Tama tidak langsung menyerah dan menjanjikan lebih. Ia telah menetapkan garis. Namun, baik Tama maupun Aya tahu: ini bukanlah akhir dari tuntutan Ajeng, melainkan awal dari perseteruan panjang mengenai batasan dan kewajiban.
***
Pagi setelah "kesepakatan awal" yang dipaksakan itu, suasana di kontrakan kecil mereka terasa dingin, jauh lebih dingin dari udara dini hari yang menyusup dari jendela. Tama bangun sebelum subuh, wajahnya tegang dan matanya bengkak. Ia menghindari kontak mata dengan Aya. Ia tidak mau sarapan bekal sederhana yang dibuat Aya, hanya minum kopi hitam sambil mondar-mandir di ruang tengah.
Aya tahu ada yang tidak beres. Keheningan Tama setelah Ajeng menelepon dengan nada kecewa tadi malam bukanlah keheningan yang pasrah, melainkan keheningan yang sedang bergolak, siap meledak.