Tifa POV Aku dan Arda kembali ke Jakarta disambut dengan rumah baru yang sudah terisi lengkap. Dari depan sudah ada meja kursi teras, lalu ruang tamu, ruang tengah, ruang baca, ruang makan, dapur, kamar, sampai kamar mandi. Semua sudah terisi dengan barang-barang berkualitas tinggi. Rumah yang dipilih papa, dengan persetujuan kami tentunya–cukup besar, dan memiliki dua lantai. “Gimana, kamu suka nggak?” Aku menoleh ke samping. Kuanggukkan kepala sambil tersenyum. “Suka, Ma. Terima kasih banyak. Pa, makasih banyak.” Kami baru saja keliling lantai satu dan dua. “Syukurlah kalau kamu suka. Itu yang paling penting,” kata mama Arda. Kami berjalan masuk ke ruang keluarga. Aku duduk bersama mama Arda di sofa panjang. Arda ikut duduk bersama kami. Di sebelah kananku, lalu dia merangkulku. Ak

