Arda POV Aku benar-benar melupakan meeting penting yang seharusnya kuhadiri bersama papa siang tadi. Seperti yang kukatakan pada istriku, setelah berhasil membuat senjataku berfungsi pada orang yang tepat, rasanya aku tidak ingin berhenti untuk terus mengasahnya. Membuatnya semakin tajam dan memperlihatkan ketangguhannya. Karena kesibukan itu lah akhirnya aku harus berhadapan dengan papa yang tampak marah. “Kamu itu bagaimana? Meeting penting kok sampai lupa.” “Maaf, Pa.” Apalagi yang bisa kukatakan pada papa selain satu kata 'maaf.' “Trus ponselmu kenapa? Kenapa mati?” Aku garuk kepala. “Itu … kehabisan daya, Pa.” Aku menjawab sekenanya. Sebenarnya bukan karena kehabisan daya ponselku mati, tapi, karena sengaja aku matikan. Aku kesal saat sedang mendaki puncak kenikmatan lalu benda

